Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,
Sunnatullah atau Hukum Allah yang berlaku dalam kehidupan di dunia mengambil bentuk yang berbagai. Di antaranya adalah seperti :
1- Benda yang dilempar ke atas mestilah jatuh ke bawah.
2- Manusia yang lapar dan haus bererti perlu makan dan minum untuk menghilangkannya.
3- Seseorang yang ditetak tangannya niscaya akan terluka dan berdarah.
4- Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan: ada siang ada malam, ada panas ada dingin, ada sehat ada sakit, ada senang ada susah, ada lapang ada sempit, ada kaya ada miskin, ada menang ada kalah.
Selain contoh-contoh di atas masih banyak lagi bentuk sunnatullah yang berlaku di atas muka bumi ini.
Di sudut lain, ada pula sunnatullah yang berlaku yang mempunyai kaitan dengan sekumpulan manusia, suatu kaum atau suatu umat.
Contohnya seperti berikut :
Allah tidak akan membinasakan suatu kaum sebelum dikirim terlebih dahulu seorang Nabi atau Rasul dariNya yang berfungsi untuk memberikan teguran dan peringatan kepada kaum tersebut. Allah tidak akan membiarkan adanya suatu kaum yang berlaku sewenang-wenangnya terhadap kaum-kaum lainnya kecuali Allah akan hadirkan sekelompok manusia lainnya yang berfungsi menjadi pengimbang atas kelompok yang berlaku zalim tersebut.
Ini dikenali dalam istilah Islam sebagai
"Sunnah At-Tadaafu'" (Sunnatullah dalam hal konflik atau pertentangan antara umat manusia).
Selain itu ada satu lagi sunatullah yang bernama "Sunnah At-Tadaawul" (Sunnatullah dalam hal pergantian giliran kepimpinan).
Perkara ini boleh kita temui dalam sebuah ayat yang berbunyi seperti berikut :
"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia..." (QS Ali Imran : 140)
Terjemahan lengkap ayat di atas ialah :
"Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membezakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebahagian kamu dijadikanNya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim." (QS Ali Imran : 140)
Agar umat Islam benar-benar memahami dan menghayati
"Sunnah At-Tadaawul" , maka melalui ayat ini Allah mengaitkannya dengan kejadian perang Uhud yang dialami oleh kaum muslimin.
Perang Uhud merupakan perang kedua setelah perang Badar. Di dalam perang Badar para sahabat meraih kemenangan padahal mereka hanya berjumlah 313 orang melawan kaum kafir musyrik Quraisy yang berjumlah 1000 orang sedangkan dalam perang berikutnya, iaitu perang Uhud, kaum muslimin pada tahap awal peperangan sesungguhnya telah meraih kemenangan.
Namun, apabila pasukan pemanah meninggalkan pos pertahanan mereka di bukit Uhud, maka situasinya berubah sama sekali. Allah akhirnya mengizinkan kemenangan berada di pihak kaum kafir musyrik Quraisy sedangkan Nabi saw dan para sahabatnya menderita kekalahan.
Sehingga Allah swt berfirman :
"Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka (penderitaan kekalahan), maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka (penderitaan kekalahan) yang serupa."
Mengapa Allah perlu membiarkan kaum muslimin menderita kekalahan?
Mengapa sebaliknya Allah mengizinkan kaum kuffar musyrik Quraisy mendapat kemenangan?
Allah swt sendiri menjelaskannya :
PERTAMA : Allah ingin mempergilirkan kemenangan dan kekalahan di antara manusia.
Kejayaan dan kehancuran ingin digilir di antara manusia. Itulah tabiat dunia. Dalam dunia yang fana ini :
Tidak ada perkara yang bersifat kekal dan abadi.
Tidak ada pihak yang terus-menerus menang.
Tidak ada kelompok yang terus-menerus kalah.
Semua akan mengalami giliran yang silih berganti. Orang-orang yang beriman pun, tanpa kecuali, akan mengalami keadaan yang silih berganti di dunia kerana bukan semata-mata dengan keimanan lalu seseorang atau sesuatu kelompok manusia mesti sentiasa menang.
Tanpa pernah mengalami kekalahan, bagaimana mungkin seseorang atau sekelompok manusia akan menghargai dan mensyukuri kemenangan?
KEDUA : Allah hendak memisahkan dan membezakan orang yang beriman dengan orang yang kafir. Dengan mengalami kemenangan dan kekalahan, maka akan terlihatlah :
Siapakah orang yang pandai bersyukur ketika menang.
Siapakah pula yang pandai bersabar di kala mengalami kekalahan.
Begitulah pula sebaliknya di mana akan terlihat siapakah orang yang lupa diri di kala menang dan siapa yang berputus-asa ketika kalah.
KETIGA : Melalui pengalaman silih bergantinya kemenangan dan kekalahan Allah hendak memberi peluang orang-orang ynag beriman untuk meraih bentuk kematian yang paling mulia, iaitu mati syahid. Allah berkehendak mencabut nyawa orang-orang yang beriman sebagai para syuhada’ yang ketika berpisah ruh dari jasadnya, maka ruh mulia tersebut akan terus dijemput oleh burung-burung syurga.
Berdasarkan perkara di atas, maka perjalanan sejarah umat Islam boleh dilihat sebagai :
Sebuah perjalanan panjang yang diwarnai oleh silih bergantinya pengalaman kemenangan dan kekalahan umat ini ke atas kaum kafir.
Silih bergantinya kejayaan dan kehancuran umat. Kadang-kadang ada masanya orang-orang beriman memimpin umat manusia, namun ada masanya juga orang-orang kafir yang memimpin umat manusia. Maka, sudah barang tentu pada masa di mana orang beriman memimpin masyarakat, maka berbagai program dan aktiviti sepatutnya lebih bercirikan "rasa syukur" akan nikmat kemenangan yang sedang dialami.
Sebaliknya, ketika kaum kafir yang memimpin umat manusia, maka sudah sepatutnya orang-orang beriman mengisi perjalanan hidupnya dengan dominasi "sikap sabar" di atas kekalahan yang sedang dideritainya.
Jadi bagaimanakah keadaan realiti kita dewasa ini?
