SEJARAH DAN MAKNA TAHUN BARU IMLEK
oleh Uung Sendana
Yan Yuan 颜 渊 bertanya bagaimana mengatur pemerintahan.
Nabi bersabda, “Pakailah penanggalan Dinasti Xia....................”.
(Lun Yu, 论 语 XV : 11)
Orang Jepang bergembira dengan datangnya Natal, mereka memasang pohon Natal dengan segala pernak perniknya. Lagu-lagu natal terutama stille nach terdengar dimana-mana bahkan sinterklaspun ikut meramaikan perayaan Natal. Apa mereka beragama Kristen? tidak sama sekali bahkan banyak yang tidak tahu siapa sang Juru Selamat itu. Itu tidak menjadi halangan. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Tetapi perayaan spiritual itu menjadi tanpa makna.
Tradisi Natal diawali pada sekitar abad ke VIII ketika suku-suku Germanik memeluk kekristenan. Mulanya peristiwa itu adalah hari pemujaan matahari yang disana dinamakan sang sol invictus (matahari yang tidak terkalahkan). Ketika menjadi kristen mereka mengganti posisi matahari ini untuk Yesus Kristus, Juru Penerang dunia. Kapan Yesus benar-benar lahir ke dunia tidak seorangpun tahu persis. Orang Kristen Ortodoks meyakini tanggal 6 Januari 1 Tahun Sebelum Tarikh Masehi, itupun bersifat spekulasi.
Lalu apa bedanya dengan mereka yang merayakan Tahun Baru Imlek hanya karena menyukai tarian naga dan singa, tanpa unsur religius sedikitpun?. Mereka sekedar merayakannya sebagai Hari Syukur (thanks giving) semacam harvesting festival, padahal benih baru saja ditabur. Kini tarian singa dan naga menjadi milik pelbagai bangsa termasuk Indonesia. Tetapi makna Tahun Baru lebih kaya dari itu.
Makalah ini, sesuai judulnya akan membahas mengenai Sejarah dan Makna Tahun Baru Imlek yang mudah-mudahan bermanfaat agar dapat terhindar dari kekeliruan dan dengan demikian lebih menghargai apa yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita.
Ada beberapa sebutan untuk penanggalan Imlek. Nama aslinya ialah Xia Li, 夏 厉 atau Penanggalan Dinasti Xia, 夏. Dinamai Xia Li karena dinasti Xia (2205 - 1766 s.M.) adalah yang pertama-tama tercatat menggunakan penanggalan ini.
Nama sebutan lain ialah Nong Li, 农 厉, artinya Penanggalan Petani, karena Tahun Barunya dimulai saat menjelang musim semi, dan perhitungan-perhitungan musimnya sangat cocok untuk para petani.
Dinamai pula Kongzi Li, 孔子 厉 atau Penanggalan Nabi Khongcu karena penggunaannya kembali secara resmi sejak jaman Kaisar Wu, 武 (140 - 86 s.M.) dari dinasti Han,汉 (206 - 220 s.M.) adalah berdasarkan Sabda Nabi Khongcu seperti kita baca di awal makalah ini.
Mengapa Nabi Khongcu (551 s.M - 479 s.M) sampai mengucapkan sabda itu dan bagaimana Raja Han Wu Di, 汉 武 帝 sampai menetapkan sebagai penanggalan resmi?
Nabi Khongcu yang hidup pada jaman Dinasti Zhou 周 (1122 - 255 s.M.) merasa sistim penanggalan Dinasti Zhou yang Tahun Barunya ditetapkan pada hari Dongzhi, 冬至 (Tangcik/Winter Soltice - Pertengahan Musim Dingin) kurang sesuai dengan kepentingan rakyat banyak yang hidup sebagai petani.
Pada jaman dahulu untuk menunjukkan kekuasaannya, tiap Dinasti menggunakan sistim penanggalan yang berbeda. Perbedaan penanggalan ini terutama adalah mengenai saat hari Tahun Barunya.
Dinasti Xia menetapkan Tahun Baru pada saat Jian Yin, 建 寅 (saat kejadian manusia, Zheng Yue正 月 Cia Gwee sekarang ini). Dinasti Yin 殷atau Dinasti Shang, 商 (1766 - 1122 s.M.) menetapkan saat Jian Chou, 建 丑 (saat kejadian bumi, yaitu bulan baru atau tanggal satu Shi-er Yue, 十二 月 Cap-ji Gwee) sekarang ini. Dinasti Zhou周menetapkan saat Jian Zi, 建 子 (saat keja-dian langit, yaitu bulan baru Shi-yi Yue, 十一 月 Cap-iet Gwee) atau tepatnya saat Dongzhi (Tangcik/21-22 Desember).
Di dalam penghidupan rakyat jelata pada jaman dahulu penetapan saat Tahun Baru memegang peranan penting karena penetapan itu menjadi pedoman mereka menyiapkan pekerjaan di dalam tahun mendatang. Pada jaman kuno tidak ada catatan penanggalan yang dimiliki oleh rakyat sendiri, karena tidak ada alat-alat tulis seperti sekarang. Mereka menanti saat-saat datangnya Tahun Baru dari petugas kerajaan yang setiap Tahun Baru memberitakan maklumat-maklu-mat raja.
Di dalam Kitab Shu Jing, 书 经 Bagian Kitab Dinasti Xia ditulis, “Tiap tahun pada saat datang permulaan musim semi (Meng Chun, 孟 春) diperintahkanlah orang dengan membawa Mu Duo, 木 铎 (Genta logam yang dipukul dengan kayu) berjalan sepanjang jalan.” (untuk menyampaikan amanat-amanat itu).
Seperti kita ketahui dari catatan sejarah dan kitab suci, Dinasti Xia menetapkan Tahun Baru pada saat menjelang musim semi. Maka utusan raja pun dikirim pada saat itu. Demikian pula Dinasti Yin 殷atau Shang, 商 yang menetapkan Tahun Baru pada akhir musim dingin atau Ji Dong, 季 冬 dan Dinasti Zhou周menetapkan Tahun Baru pada pertengahan musim dingin atau Zhong Dong, 中 冬 atau Dong Zhi 冬 至 (tibanya musim dingin). Maka mereka akan mengutus orang pada bulan penetapan itu.
Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan Dinasti Xia jauh lebih bijaksana karena berita datangnya Tahun Baru tepat sebagai perintah segera menyiapkan pekerjaan untuk tahun mendatang. Sedangkan Dinasti Yin dan Zhou rakyat masih harus menanti satu - dua bulan melalui musim dingin.
Di dalam seluruh kehidupannya, Nabi Khongcu mencurahkan perhatian untuk kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat, maka dapat kita pahami mengapa beliau bersabda kepada Yan Hui, 颜 回 agar menggunakan penanggalan Dinasti Xia untuk melaksanakan pemerintahan yang baik.
Terhadap anjuran Nabi Khongcu tidak ada raja atau rajamuda-rajamuda Dinasti Zhou yang mau menerimanya, karena penanggalan adalah lambang suatu Dinasti.
Dinasti Zhou runtuh pada tahun 255 s.M. dan berdiri Dinasti Qin, 秦 (255 - 206 S.M.) yang juga mengganti sistim penanggalan, dan saat Tahun Barunya justru dimajukan sebulan, sekarang bulan Shi Yue, 十 月 (Cap Gwee).
Dinasti Qin, 秦 tidak lama memerintah, pada kaisar yang kedua, Er Shi Huang Di, 二 世 皇 帝 Dinasti Qin ditumbangkan oleh seorang pemberontak dari Negara Chu楚 bergelar Chu Ba Wang 楚 霸 王 bersama rekannya, Liu Bang, 刘 邦.
Setelah Dinasti Qin runtuh, terjadi peselisihan antara 2 pemimpin pemberontak itu. Chu Ba Wang akhirnya kalah dan berdirilah Dinasti Han dengan Liu Bang sebagai rajanya dan bergelar Han Gao Zu, 汉 高 祖.
Pada awalnya Raja-raja Dinasti Han selalu sibuk dengan urusan-urusan militer sehingga urusan-urusan sipil seperti penetapan penanggalan tidak terlalu mendapat perhatian.
Meskipun demikian terdapat suatu perbedaan besar antara Dinasti Qin dan Dinasti Han. Pada jaman Dinasti Qin umat dan tokoh-tokoh agama Ru-Khonghucu dikejar-kejar dan menderita penganiayaan, pada jaman Dinasti Han mereka mendapatkan kedudukan yang baik. Pada jaman Dinasti Qin Kitab-kitab Suci agama Ru-Khonghucu diperintahkan dibakar dan dimusnahkan (213 s.M.), pada jaman Dinasti Han pemerintah justeru membantu mengumpulkan kembali dengan didirikan jawatan-jawatan khusus untuk keperluan itu.
Bahkan Kaisar Han Wu Di (140 - 86 s.M.) menetapkan agama Ru-Khonghucu sebagai agama negara. Untuk jabatan-jabatan penting, sistim ujian negara dilaksanakan - dengan mata pelajaran dasar Kitab-kitab agama Ru- Khonghucu yang sesuai dengan jiwa ajaran Nabi Khongcu - mengganti sistim keturunan.
Pada tahun 104 s.M. sistim penanggalan yang disabdakan Nabi Khongcu dalam Kitab Lun Yu akhirnya ditetapkan sebagai penanggalan Negara.
Sebagai penghormatan kepada Nabi Khongcu, perhitungan tahun pertama Kalender Imlek ditetapkan oleh Kaisar Han Wu Di dihitung sejak kelahiran Nabi Khongcu, yaitu tahun 551 sM. Itulah sebabnya Kalender Imlek lebih awal 551 tahun dibanding Kalender Masehi. Jika sekarang Kalender Masehi bertahun 2010, maka Kalender Imlek bertahun 2010 + 551 = 2561
Demikianlah penggunaan sistim penanggalan Dinasti Xia menjadi suatu lambang kemenangan perjuangan dan semangat umat Ru-Khonghucu di dalam mengembangkan ajaran Nabi Khongcu.
Semenjak jaman Dinasti Han, meskipun dinasti yang satu runtuh diganti dengan dinasti yang lain, sistim penanggalan resmi di Tiongkok tidak berubah sampai akhir Dinasti Manqing, 满 清 (1922 M) ketika sistim penanggalan resmi diubah oleh pemerintah Republik Tiongkok menjadi Yang Lik atau penanggalan Masehi.
Maka sejak saat itu, di Tiongkok terdapat dua jenis kalender: kalender tradisional yang biasa disebut agricultural calendar (農曆 nónglì, 农历) atau kalender "Yin” (陰曆 yīnlì, 阴历dan kalender Gregorian yang biasa disebut kalender umum (公曆 gōnglì, 公历), atau kalender Barat (西曆 xīlì, 西历). Kalender Tionghoa disebut kalender lama (舊曆 jìulì, 旧历) sedangkan kalender Gregorian disebut kalender baru (新曆 xīnlì, 新历).
Dalam perjalanan sejarah, Ajaran Nabi Khongcu kemudian tersebar sampai di Korea, Jepang, Asia Tenggara bahkan dunia. Sistim penanggalan Xia Li juga digunakan di dalam kehidupan keagamaan di antara umatnya. Meski nama yang diucapkan berbeda-beda, Korea, Jepang, Vietnam, Birma, Malaysia, Indonesia, dsb merayakan hari Tahun Baru yang sama.
Ketika berkembang agama Buddha dan Taoisme di Tiongkok pada permulaan tarikh Masehi mereka juga menyesuaikan hari-hari besarnya dengan menggunakan penanggalan Imlek atau Kongzi Li ini.
Sebagai contoh, umat Buddha di Indonesia disamping merayakan hari lahir, hari mencapai penerangan dan hari mencapai parinirwana dari Sang Buddha pada bulan purnama bulan Mei (hari Waisak), merayakan hari lahir Sang Buddha pada tanggal 8 Si Yue, 四 月(Si Gwee), hari mencapai penerangan pada tanggal 8 Shi-er Yue, 十 二 月 (Cap-ji Gwee) dan hari mencapai parinirwana pada tanggal 15 / Er Yue, 二 月(Ji Gwee).
SISTEM PENANGGALAN IMLEK
Imlek/Yin Li artinya Penanggalan berdasar peredaran bulan. Sebaliknya Yanglik/Yang Li, 阳 厉 berarti penanggalan berdasar peredaran matahari.
Tiap bulan tanggal satu Penanggalan Imlek selalu jatuh pada bulan baru dan pada tanggal 15 adalah bulan purnama. Karena bulan mengelilingi bumi lebih kurang 29 1/2 hari maka tiap bulan terdiri atas 29 atau 30 hari.
Penanggalan Yanglik mengutamakan pembagian bulan untuk disesuaikan dengan peredaran musim. Maka satu tahunnya disesuaikan dengan letak matahari dalam masa satu tahun yang lebih kurang 365 1/4 hari.
Penanggalan Imlek yang kita gunakan sekarang, sebetulnya meski disesuaikan dengan peredaran rembulan tetapi dicocokkan pula dengan peredaran matahari, maka cocok untuk menentukan bulan baru dan purnama tetapi cocok pula untuk menentukan peredaran musim.
Oleh karena itu sesungguhnya kurang lengkap kalau hanya dinamai Imlek, kiranya lebih tepat dinamai Yin-Yang Li, 阴 阳 厉 (Iem-Yang Lik). Untuk mencocokkan dengan peredaran matahari tiap 5 tahun diadakan 2 kali bulan Kabisat - Run Yue闰 月 (Lun Gwee) yang dalam setahunnya berisi 13 bulan. Maka tanggal 1 bulan satu imlek/Yin Li阴 厉 selalu jatuh pada bulan baru antara 21 Januari sampai 19 Februari, atau antara saat hari Da Han 大 寒 (Great Cold - Saat Terdingin) sampai dengan hari Yu Shui 雨 水 (Spring Showers - Hujan Musim Semi) .
Dengan demikian sebetulnya Kalender Imlek menggunakan Sistem Lunisolar. Perhitungan jumlah hari per bulan didasarkan pada Sistem Solar, sedang selisih 11,25 hari per tahunnya dikonversi dengan menyisipkan bulan ke –13 pada tahun tertentu sebanyak 7 kali per 19 tahun, agar jumlah hari per tahunnya sesuai dengan Sistem Solar, karena 11,25 x 19 = 213,75 hari atau setara dengan 7 bulan.
Mekanisme penyisipan bulan ke –13 disebut ‘lun’. Dengan tambahan bulan ke –13, maka akan terjadi bulan dobel pada tahun-tahun tertentu. Pada tahun 2555, terjadi ‘lun’ di bulan –2. Dengan demikian setelah bulan –1, bulan -2, masuk ke bulan –2 lagi dan baru kemudian ke bulan –3, -4, -5 dst.
Dengan mekanisme penyisipan tersebut, maka Kalender Imlek di samping bisa digunakan untuk menghitung kapan terjadi bulan purnama, air surut dan air pasang, juga bisa digunakan untuk menentukan pergantian musim.
PENENTUAN TAHUN BARU
Pada tanggal 22 Desember letak Matahari berada di 23,5o Lintang Selatan. Di bagian Selatan Bumi, hari itu merupakan hari terpanjang; sedang di Utara merupakan hari terpendek.
Setelah 22 Desember Matahari bergerak ke Utara dan pada hari ke –91 atau 21 Maret, tepat berada di atas 0o atau Khatulistiwa. Hari ke –46 setelah pergerakan Matahari ke Utara atau tanggal 5 Februari - yang merupakan titik tengah antara 23,5o Lintang Selatan dengan Khatulistiwa - merupakan awal musim semi. Karena jumlah hari per bulan adalah 29,5 atau 30 hari, maka kisaran setengah bulan ke depan dan ke belakang dari tanggal 5 Februari adalah tanggal 21 Januari dan 19 Februari. Ini sebabnya awal Tahun Baru Imlek jatuh di antara kedua tanggal tersebut.
Batas 21 Januari s.d. 19 Februari ini yang menentukan terjadinya penyisipan bulan –13. Ketika awal Tahun Baru Imlek maju 11,25 hari per tahun dan diperhitungkan akan melewati 21 Januari, maka tahun tersebut disisipi bulan –13. Dengan demikian awal tahun baru yang mestinya maju 11 hari melewati 21 Januari, malah mundur 30 – 11 = 19 hari. Pada tahun Masehi yang habis dibagi empat (366 hari), awal Tahun Baru Imlek sesudahnya akan maju 12 hari atau mundur 18 hari.
PENUTUP
Dari paparan di atas jelas penanggalan Imlek adalah penanggalan yang digunakan untuk memberi penghormatan bagi Nabi Khongcu, setara dengan penghormatan yang diterima Jesus, Nabi Muhammad, SAW atau Sang Buddha yang telah melalui sejarah yang panjang.
Kalau penetapan Tahun pertama Kalender Masehi dihitung sejak tahun kelahiran Jesus, tahun pertama Kalender Hijriah dihitung sejak hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah maka tahun pertama Imlek dihitung sejak tahun kelahiran Nabi Khongcu.
Penetapan penanggalan imlek sebagai penanggalan resmi oleh Kaisar Han Wu Di pada tahun 104 s.M. berkaitan erat dengan apa yang disabdakan dalam Kitab Lun Yu XV: 11.
Tahun Baru Imlek adalah Hari Suci Keagamaan Ru-Khonghucu, meski saat ini – seperti halnya Natal, Tahun Baru Masehi, Idul Fitri dan hari besar keagamaan lainnya – sudah dirayakan bersama lintas agama.
Karena merupakan hari suci keagamaan, tentu saja Tahun Baru Imlek tidak telepas dari adanya ritual keagamaan yang dilaksanakan, bukan sekedar menyukai tarian naga dan singa tanpa ada unsur religi sedikitpun, bukan pula sekedar sebagai Hari Syukur (thanks giving) semacam harvesting festival, padahal benih baru saja ditabur.
Makna Tahun Baru lebih kaya dari itu. Hal itu dapat dilihat apa yang dilakukan oleh Tianzi (Kaisar) ribuan tahun yang lalu, ketika tahun baru tiba, “Pada bulan ini, pada hari pertama (Yuan Ri), Tianzi melakukan doa kepada Shang Di (Tuhan Yang Maha Tinggi, Maha Kuasa) untuk dikaruniai tahun yang berlimpah; selanjutnya, dipilih saat Yuan Chen (pagi pertama), Tianzi langsung membawa luku dan garu di dalam kereta di tempatkan di ruang antara tempat penumpang dan kusir, memimpin ketiga pangeran....” (Li Ji IVA Bab Yue Ling I: 1: 12)
DAFTAR PUSTAKA:
1. Kitab Su Si, Kitab Yang Empat, Kitab Suci Agama Khonghucu diterjemahkan oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), Cetakan ke IX 2006.
2. Kitab Suci Li Ji (Catatan Kesusilaan), diterjemahkan oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), Cetakan Pertama 2005.
3. Kitab Suci Su King/Shu Jing (Kitab Dokumen Sejarah Suci Agama Khonghucu), diterbitkan oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), tahun 2004.
4. Short History of Chinese Philosophy, Fung Yu Lan, diterjemahkan oleh John Rinaldi, S.Fil, Pustaka Pelajar, November 2007.
5. Makna Tahun Baru Yin Li (Sien Cia) Bagi Umat Agama Khonghucu, makalah Xs. Tjhie Tjay Ing, Ketua Dewan Rohaniwan Matakin, 2003.
6. Imlek dan Sistem Lunisolar, makalah Budi Santoso Tanuwibowo, 2007
7. Imlek Bukan Hanya Liong dan Barongsai, makalah RIP Tockary Zhuo.
<i>-uung-</i>