RENUNGAN ANAK BANGSA
Dibawakan oleh Uung Sendana L. Linggaraja, Sekretaris Umum MATAKIN dalam Pertemuan Pembentukan Simpul Jaringan (Sijar) Forum Antar Umat Beragama Peduli Keluarga Sejahtera dan Kependudukan (FAPSEDU) Jakarta (September 2009)
Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk menjadi pembicara dalam acara FAPSEDU ini mewakili agama Khonghucu. Dengan pengetahuan kami yang demikian terbatas, pada kesempatan ini ijinkanlah kami kutipkan beberapa cerita yang diambil dari buku “Confucius From My Heart’ tulisan Yu Dan, seorang Profesor, Cendikiawan perempuan Khonghucu yang bukunya begitu fenomenal.
Kutipan ini sengaja kami ambil sebagai bahan renungan bagi kita semua didalam kita berupaya:
“MEMBANGUN BANGSA BERWAWASAN KEPENDUDUKAN MELALUI PERAN PEMUKA AGAMA DALAM MEWUJUDKAN
KELUARGA SEJAHTERA”
Dengan penyesuaian konteks dibeberapa bagian, mudah-mudahan tulisan ini menyumbangkan renungan bagi kita semua agar bisa membangun bangsa ini dalam prioritas yang benar dan menempatkan para agamawan, pemuka agama dan cendikiawan dalam peran, kedudukan dan perilaku yang tepat pula. Dan itulah maksud kami, tidak lebih. Bila dirasakan tidak pas biarlah menjadi salah satu sudut pandang diantara sudut pandang yang lain yang mudah-mudahan dapat memperkaya khasanah pengetahuan kita.
PEMERINTAHAN DAN GROSS NATIONAL HAPPINESS
Pada suatu ketika, Zigong murid Nabi Kong Zi bertanya mengenai kondisi apa yang diperlukan oleh suatu negara agar mencapai kedamaian dan pemerintahan yang stabil. Jawaban Nabi Kong Zi sangat sederhana. Hanya ada tiga: cukup senjata, cukup makanan dan adanya kepercayaan rakyat.
Pertama, aparat suatu negara haruslah kuat, kekuatan militer harus cukup untuk melindungi negerinya.
Kedua, harus memiliki cukup persediaan sandang pangan, sehingga rakyat cukup makanan dan pakaian.
Ketiga, rakyat jelata harus memiliki kepercayaan pada bangsanya.
Zigong selalu penuh dengan pertanyaan-pertanyaan aneh. Dia bertanya seandainya tiga kondisi terlalu banyak dan harus mencapai dengan tanpa salah satu dari kondisi-kondisi tersebut, mana yang boleh dihilangkan pertama kali?
Nabi Kong Zi bersabda: ‘Korbankan senjata.’ Jadi kita lakukan tanpa perlindungan militer.
Zigong bertanya lagi: Bila harus menyingkirkan yang lain, yang mana yang kita relakan?
Nabi Kong Zi dengan serius menjawab: ‘Korbankan makanan.’ Kita rela untuk tidak makan.’
Kemudian Beliau melanjutkan, ‘Sejak awal mula kematian selalu bersama kita, namun ketika tidak ada kepercayaan, rakyat jelata tidak memiliki apapun untuk berpijak.’
Tanpa makanan pasti akan membawa kita pada kematian, namun sejak jaman dahulu hingga saat ini pernahkah ada orang yang terhindar dari kematian? Jadi kematian bukanlah hal terburuk yang dapat terjadi. Hal paling mengerikan dari semuanya adalah kehancuran dan kerusakan yang muncul ketika warga negara meninggalkan bangsanya.
Di sisi material, hidup bahagia tidak lebih dari sejumlah tujuan untuk dicapai; namun kedamaian dan stabilitas sejati datang dari dalam diri; dari penerimaan terhadap pemerintah dan hal ini berasal dari keyakinan dan kepercayaan.
Inilah konsep pemerintahan ala agama Khonghucu. Nabi Kong Zi percaya, hanya dengan kekuatan keyakinan cukup untuk mempertahankan suatu negara.
Di abad kedua puluh satu kita nyatakan bahwa tidak lagi cukup untuk menggunakan standar sederhana GNP (Gross National Product) untuk menilai kualitas hidup masyarakat di negara-negara yang berbeda. Kita harus melihat juga pada GNH: Gross National Happiness.
Dengan kata lain, untuk mengevaluasi apakah suatu negara benar-benar kaya dan kuat, kita seharusnya tidak hanya melihat dari kecepatan dan skala pertumbuhan ekonomi saja, kita seharusnya lebih melihat pada perasaan hati sebagian besar warga negara – Apakah saya merasa aman? Apakah saya bahagia? Apakah saya benar-benar setuju pada kehidupan yang saya jalani?
Bagaimana GNH negara kita sekarang dibanding 10 tahun yang lalu? Bagaimana GNH kita 10 tahun yang akan datang? Apakah meningkat ataukah menurun?
Apakah peningkatan GNP paralel dengan peningkatan GNH? Survey yang dilakukan terhadap beberapa negara lain menunjukkan bahwa meskipun secara material dan budaya masyarakat sedang berkembang, orang-orang yang menikmati buah dari keadaan masyarakat tersebut mungkin mengalami kebingungan spiritual yang sangat kompleks.
Mari kita kembali ke masa dua ribu lima ratus tahun yang lalu, dan membandingkan seperti apa orang suci dan bijaksana di jaman yang kurang makmur itu.
Nabi Kong Zi sangat mengasihi seorang murid bernama Yan Hui. Pada suatu ketika Beliau memujinya, ’Sungguh mengagumkan Hui! Hidup di tempat buruk dengan hanya sebakul nasi kasar, segayung air, yang bagi orang lain sudah tidak akan tahan, tetapi Hui tidak berubah kegembiraannya. Sungguh mengagumkan Hui’. (Lun Yu IV:11)
Keluarga Yan Hui sangat miskin. Mereka tak pernah mempunyai cukup makanan ataupun pakaian baru untuk digunakan, dan mereka tinggal di jalan yang sempit dan suram. Bagi kebanyakan orang, hidup menderita seperti ini tidak akan dapat mereka tahan, namun Yan Hui dapat menemukan kebahagiaan dari apa yang ia miliki.
Mungkin orang akan berkata, ‘Itulah jalan kehidupan, kita semua harus hidup, kaya atau miskin, apa yang dapat kita lakukan dengannya?’
Apa yang benar-benar mengagumkan dari Yan Hui bukan hanya dapat bertahan di kondisi kehidupan yang berat, namun sikapnya dalam menghadapi kehidupan. Ketika semua orang merintih dan mengeluh betapa sulit kehidupan ini, optimisme Yan Hui tak pernah goyah.
Kita lihat bahwa hanya yang benar-benar memperoleh pencerahan dapat menghindari keterikatan dengan materi di kehidupan ini dan tetap berpikiran tenang dan tentram dari awal hingga akhir, tak peduli pada kemasyhuran ataupun pencapaian pribadi.
Tentu saja, tak seorangpun ingin hidup susah, namun demikian pula, kita tidak dapat menyelesaikan masalah spiritual kita melalui ketergantungan pada kepemilikan materi.
Di Indonesia, kehidupan kita dengan jelas membaik dalam hal materi, namun semakin banyak saja orang yang merasa semakin tidak puas. Karena dengan jelas kita dapat melihat sekelompok orang yang dengan tiba-tiba menjadi sangat kaya, sesuatu yang membuat orang kebanyakan merasa kehidupan mereka dipenuhi ketidakadilan.
Sebenarnya, apa yang kita fokuskan dapat bekerja dalam dua cara: pertama adalah melihat keluar, luas tak terbatas, mengembangkan dunia kita; yang lain adalah melihat kedalam, menyelami kedalaman tak terhingga untuk memeriksa kedalam hati.
Kita selalu menghabiskan terlalu banyak waktu melihat dunia luar, dan terlalu sedikit melihat ke dalam hati dan jiwa kita.
Nabi Kong Zi dapat mengajarkan kita rahasia kebahagiaan, yaitu bagaimana mencari kedamaian dalam diri.
Zigong, suatu saat bertanya kepada Nabi Kong Zi, “Miskin tanpa menjadi rendah diri, kaya tanpa menjadi sombong.” Apa pendapat Guru tentang pernyataan ini? Bayangkan seseorang yang sangat miskin tetapi tidak merendahkan diri pada orang kaya, atau seseorang yang sangat kaya dan berkuasa tetapi tidak congkak ataupun sombong. Apa yang Guru pikir tentang hal itu?
Nabi Kong Zi mengatakan, hal ini cukup baik, tetapi tetap tidak cukup. Ada yang lain, keadaan yang lebih tinggi: ‘Miskin namun bersuka dalam Jalan Suci, kaya namun taat pada Li.’
Keadaan yang lebih tinggi mewajibkan seseorang tidak hanya harus menerima kemiskinan dengan lapang dada, tidak merangkak dan mengemis belas kasihan, tetapi mereka juga harus memiliki ketenangan, kebahagiaan nyata di dalam, jenis kebahagiaan yang tidak hilang oleh kemiskinan. Kekuasaan dan kekayaan tidak pula akan membuat orang tersebut angkuh atau memanjakan diri; mereka akan tetap hormat dan sopan, dengan pikiran yang puas dan gembira. Orang seperti ini dapat menghindari kesesatan akibat hidup kaya dan makmur, dan dapat tetap menjaga penghargaan pada diri sendiri dan kebahagiaan batin mereka. Orang seperti ini benar-benar dapat disebut seorang Junzi.
AGAMAWAN DAN CENDIKIAWAN
Dalam agama Khonghucu, ada satu kedudukan orang, yaitu shi, yang merupakan kelas intelektual paling tinggi, orang yang melihat masyarakat tempat mereka hidup sebagai tanggung jawab mereka. Ini adalah sebuah status yang sangat terhormat yang kadangkala dikaitkan dengan ‘sarjana paripurna’, siswa dalam kebajikan.
Nabi Kong Zi bersabda, ‘Seorang shi yang hanya mendambakan kesenangan saja, tidak layak disebut seorang shi.’ (Lun Yu XIV : 2) Dengan kata lain, jika seseorang hanya menikmati harinya tanpa ruang dalam kepalanya untuk semua hal kecuali keluarga kecil mereka, urusan sehari-hari dan hal-hal duniawi lainnya, maka mereka tidak dapat menjadi shi sejati.
Aspek tanggung jawab ini yang disentuh saat murid Nabi Kong Zi, Zigong bertanya kepada gurunya: ‘Bagaimanakah orang yang dapat dikatakan sebagai shi sejati?’
Sang Guru menjawab ‘Seorang yang di dalam tingkah lakunya mengenal rasa malu dan saat diutus rajanya tidak mencemari perintah rajanya dapat dikatakan sebagai seorang shi.’ (Lun Yu XIII: 20)
Yang dimaksud Beliau adalah bahwa seseorang harus mengerti tentang kesopanan dan integritas, dapat mengendalikan perilaku, memiliki hati yang teguh dan sabar serta tidak ragu pada standar mereka; namun di saat yang sama harus berguna bagi masyarakat – mereka bekerja sebaik-baiknya bagi masyarakat. Dengan kata lain, saat seseorang mencapai pengembangan di dalam dirinya, mereka tidak akan terlena berpuas diri; mereka akan mengembangkannya keluar dan melakukan hal-hal yang bermanfaat; mereka akan setia kepada misinya dan ‘tidak mencemari perintah rajanya’. Hal ini, menurut Nabi Kong Zi, merupakan standar tertinggi dari shi.
Zigong berpikir standar ini terlalu tinggi, maka ia bertanya: ‘Bolehkah saya bertanya orang yang setingkat lebih rendah?’ Adakah standar lain yang lebih rendah?
Nabi Kong Zi menjawab, ‘Seseorang yang di dalam keluarga terpuji laku baktinya dan di desanya terpuji sikap rendah hatinya.’ Dengan kata lain, seseorang yang dipuji oleh keluarga luarnya karena berbakti kepada orangtua, dan terkenal di desa karena perilaku baik yang ditunjukkan kepada teman-temannya. Jika kita dapat memulai dari hal-hal yang ada di sekitar kita, dalam hubungan manusia bersinar dengan cinta kasih, menggunakan kekuatan cinta kasih ini sehingga mendapatkan pengakuan dari sekitar kita, dan tidak memalukan leluhur kita adalah level kedua dari shi.
Zigong bertanya lagi, ‘Dan selanjutnya?’ Adakah yang lain, yang setingkat lebih rendah?
Nabi Kong Zi bersabda, ‘Seseorang yang dengan sekuat tenaga menjaga kata-katanya dan terus berusaha sampai tindakannya membuahkan hasil, orang seperti ini, meskipun masih keras kepala dan menunjukan cacat-cacat orang rendah budi masih tergolong tingkat selanjutnya.’
Orang-orang masa kini mungkin merasa heran dengan ini. Bagaimana standar tingkah laku yang tinggi hanya masuk ke dalam level ketiga shi? Seseorang yang sekuat tenaga menjaga kata-katanya dan terus berusaha sampai tindakannya membuahkan hasil, yang setuju untuk melakukan sesuatu dan menyelesaikannya bagaimanapun caranya dan apapun konsekuensinya, yang selalu memegang janji – semua ini, dan orang seperti ini hanya dimasukkan dalam kelas ketiga shi? Berapa orang di masa sekarang ini yang benar-benar sanggup untuk menjaga kata-kata dan terus berusaha sampai tindakannya membuahkan hasil?
Meskipun semua ini tidak mudah dicapai, ketiga standar ini, menurut Nabi Kong Zi, merupakan penentu jenis individu paripurna yang dapat sukses pada posisi apapun dalam masyarakat.
Ada sebuah cerita tentang Lin Xiangru, menteri terkenal kerajaan Zhao pada periode negara-negara berperang (475-221 s.M); yang mendemonstrasikan standar tertinggi dari shi: seseorang yang ‘tidak mencemari perintah rajanya’.
Ini terjadi ketika raja Zhao memperoleh batu giok Hesheng - sebuah permata langka dan tidak ternilai harganya - lebih berharga dari banyak kota. Raja Qin ingin mendapatkan batu giok itu, maka ia mengirim seorang utusan ke raja Zhao, menyampaikan bahwa ia bersedia menukar batu giok tersebut dengan lima belas kota. Raja Zhao tahu bahwa Qin adalah negara yang kejam dan serakah; bila batu giok itu sampai ke tangan Qin tidak mungkin untuk memperolehnya kembali. Lin Xiangru berkata: ‘Jika kita menolak untuk menukarkan dan mempertahankan batu giok ini, kita akan disalahkan. Namun demikian, saya akan menjaga batu ini. Lebih baik mengorbankan nyawa saya daripada membiarkan batu giok ini jatuh ketangan raja Qin tanpa mendapatkan kelima belas kota yang dijanjikan. Jadi, selama anda memiliki saya, anda memiliki batu giok itu.’
Saat Lin Xiangru sampai di kerajaan Qin membawa batu giok Hesheng, raja Qin begitu saja menerimanya di aula samping, membiarkan menteri-menteri dan dayang-dayang istana mengelilingi harta yang tidak ternilai harganya itu sambil tertawa-tawa. Saat Lin Xiangru melihat ini, ia menyadari kerajaan Zhao diperlakukan kurang hormat seperti batu itu. Bagaimanapun, mendapatkan kembali batu giok itu bukanlah pekerjaan mudah. Jadi ia berkata kepada raja Qin: ‘Yang mulia, batu giok itu mempunyai cacat, berikan pada saya dan saya akan memperlihatkannya.’ Saat raja Qin mengembalikan batu giok itu ke tangannya, Lin Xiangru mundur beberapa langkah, membelakangi sebuah pilar. Ia berdiri di sana dan menggenggam permata tersebut dan dengan penuh kemarahan berkata kepada raja Qin: ‘Saat anda menerima harta kami di dalam sebuah tempat seperti ini, anda tidak menghormati batu ini, dan juga kerajaan Zhao. Sebelum kami datang, sebagai tanda penghormatan kami pada kerajaan Qin, kami membakar dupa, membuat pengorbanan dan berpuasa selama lima belas hari. Saya dengan penuh rasa hormat datang ke sini membawa batu giok ini, tetapi anda begitu saja mengedarkannya kepada menteri-menteri dan dayang-dayang istana. Saya dapat melihat dari sikap congkak anda, anda tidak berkeinginan memberikan kelima belas kota untuk pertukaran. Jika anda sungguh menginginkannya, anda harus membakar dupa dan berpuasa selama lima belas hari seperti yang telah kami lakukan; setelah itu saya akan memberikan kembali batu giok ini kepada anda. Jika anda tidak melakukan hal tersebut, saya akan menghancurkan kepala saya bersama pecahan batu giok ini pada pilar utama di aula emasmu.’ Raja Qin merasa takut, dan dengan terburu-buru menyetujui permintaannya.
Lin Xiangru tahu raja Qin tidak akan menepati janjinya, maka malam itu ia memerintahkan bawahannya untuk melarikan diri kembali ke Zhao sambil membawa permata tak ternilai bersama mereka. Meskipun tetap tinggal di sana, dia mengakui apa yang telah ia lakukan kapada raja Qin dan berkata, ‘Saya tahu anda tidak benar-benar bermaksud memberikan kota-kota itu, tetapi sekarang batu itu sudah kembali ke tangan Zhao.’
Cara seseorang bertindak saat situasi di sekitar mereka berubah adalah sebuah tes yang bagus untuk menguji kematangan orang itu; bagaimana seseorang mengatasi rasa takutnya, menguasai keadaan, tetap tenang dan tidak gugup. Untuk itu, kita harus menemukan apa yang mendasari keinginan kita. Dalam hal ini tidak perlu sesuatu yang terlihat sebagai keinginan yang besar seperti kekuasaan, harta, atau hal-hal semacam itu. Dapat dikatakan bahwa dalam perjalanan hidup setiap orang memiliki sebuah tujuan yang mereka ingin capai lebih dari apapun yang lainnya. Siapapun yang dapat menemukan keinginan idealnya akan memiliki jangkar bagi seluruh kehidupan mereka dan menjadi landasan kuat dari lubuk hati mereka.
Bagi Nabi Kong Zi, semua tujuan dibangun dari landasan yang sederhana dan alamiah. Berpikir positif merupakan salah satu kekuatan yang sangat kuat. Apa yang kita semua dambakan adalah waktu untuk berefleksi, kemewahan perjalanan spritual – bukan kemewahan materi.
-uung-