GENTA ROHANI > ARTIKEL UTAMA > KONTROL
PERSPEKTIF DAN PILIHAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA KHONGHUCU DI INDONESIA
Page 1 / 1
PERSPEKTIF DAN PILIHAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA KHONGHUCU DI INDONESIA
06/27/2011 2:00 pm

Moderator
Administrator
Senior Member


Regist.: 06/14/2011
Topics: 14
Posts: 0
OFFLINE
PERSPEKTIF DAN PILIHAN PENGEMBANGAN
PENDIDIKAN AGAMA KHONGHUCU DI INDONESIA

Oleh: Uung Sendana L. Linggaraja



Berbicara mengenai pendidikan seringkali merupakan hal yang mudah dibicarakan tetapi tidak mudah diimplementasikan. Mengapa demikian? Pendidikan menyangkut manusia, dan masing-masing individu manusia mempunyai kompleksitasnya sendiri.
Seperti kita ketahui bersama, dalam kesejarahan agama Ru-Khonghucu (Ru Jiao) dengan diturunkannya Shengren Kong Zi  (Nabi Khongcu) sebagai Nabi utusan Tian Yang Maha Esa yang terakhir dari sekian Nabi dalam agama Ru-Khonghucu, telah terjadi perubahan yang sangat fundamental dalam sistem pendidikan.

Pendidikan yang tadinya hanya terbatas bagi kaum bangsawan, telah menjadi pendidikan bagi setiap orang yang mau belajar dengan simbolisme membawa seikat dendeng. Dengan adanya perubahan yang radikal ini membawa konsekuensi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Sejak Nabi Khongcu mendeklarasikan pendidikan bagi semua orang, beberapa peristilahan ”nama” juga mengalami pergeseran dan mempunyai arti baru. Junzi yang tadinya merupakan istilah bagi kaum bangsawan, berubah menjadi nama bagi orang yang paripurna, orang yang berhasil HIDUP di dalam Firman, mengikuti watak sejati yang telah dikaruniakan dalam diri manusia selaras dengan dao (Jalan Suci) .

Dalam ajaran Ru-Khonghucu, Junzi menjadi ‘model manusia’, Junzi adalah manusia yang HIDUP tidak menggerutu kehadapan Tian, tidak menyesali sesama manusia, satya mengikuti firman, tidak melakukan apa yang tidak ingin orang lain lakukan pada dirinya, membantu orang lain untuk tegak agar diri sendiri tegak serta berperilaku tepat dalam kedudukannya serta banyak lagi karakter lainnya.


PILIHAN PENDIDIKAN

Mengamati kehidupan kemasyarakatan Indonesia sekarang ini, tidak terkecuali umat Ru-Khonghucu,  kentara terlihat adanya suatu kesenjangan antara hidup beragama dengan menjalani kehidupan itu sendiri. Keberagamaan seseorang seringkali hanya dinilai dari seberapa sering dan khusuknya seseorang pergi ke tempat ibadah dan bersembahyang. Tempat ibadah semakin banyak bertebaran di berbagai pelosok daerah, tetapi hal ini tidak diimbangi kemajuan moralitas dan ahlak masyarakat kita.

Pertanyaan yang menarik untuk diajukan: Benarkah adanya keterpisahan antara kepandaian seseorang di bidang agama dengan praktek kehidupannya? Bagaimana spirit keagamaan seseorang dapat menjadi spirit kehidupan?  Pendidikan agama Ru-Khonghucu seperti apa yang akan dipilih? Dimana titik berat pendidikan agama Ru-Khonghucu,  hubungan vertikal dengan Tian ataukah hubungan horizontal kita dengan sesama manusia (ren)? Apakah kita akan mengikuti arus ataukah membuat arus? Siswa seperti apa yang ingin dibentuk? apakah benar seorang agamawan Ru-Khonghucu adalah seorang yang harus menjadikan keahliannya sebagai profesinya dan tidak berprofesi lainnya? Apakah benar seorang agamawan tidak ada kaitannya dengan kesuksesan di bidang kehidupan lainnya, tidak terkecuali kesuksesan di bidang materi?

Untuk menjadi seorang Junzi, diperlukan suatu kemauan yang kuat untuk menjadi seorang siswa dalam kebajikan, yang senantiasa HIDUP dengan semangat belajar tanpa kenal lelah,  memperbaharui diri dan membina diri. Semangat belajar tidaklah hanya diartikan sebagai belajar text book belaka sebagai seorang literati, tetapi semangat belajar dalam agama Ru-Khonghucu diartikan dalam pengertian yang lebih luas, mencakup hakikat manusia sebagai mahluk jasmani dan rohani. Bahkan belajar dari kehidupan itu sendiri.

Kata HIDUP memiliki arti kita menjalankan kehidupan sekarang dan kini, di dunia ini, dengan demikian agama Ru-Khonghucu menjadi Way of Life penganutnya karena keyakinan yang dalam atas anugerah yang telah diberikan oleh Tian Yang Maha Esa berupa Firman dalam dirinya (Xing). Bukankah Nabi Khongcu bersabda sebelum mengerti tentang kehidupan, bagaimana mengerti hal kematian? Bagi penganut agama Ru-Khonghucu, bukan dan tidak sekali-kali boleh mengidentikkan (atau mengutamakan) agama sebagai pembahasan mengenai after life saja.  Ajaran agama Khonghucu secara aktif dipraktekan dalam hubungan dengan Tian, Di dan Ren.. Hal ini sesuai dengan iman umat Ru-Khonghucu  Wei De Dong Tian, Xian You Yi De dan  ‘Yang tidak mengenal Firman, tidak dapat menjadi seorang Junzi”

Pengertian ini bukan berarti kita tidak percaya terhadap adanya ‘kehidupan” setelah kematian (after life), titik berat kita kepada kekinian untuk mempersiapkan “nanti” karena kini dan nanti merupakan satu kesinambungan yang tidak terpisah. Maka dikatakan untuk mencapai yang jauh harus dimulai dari yang dekat, untuk mencapai tempat tinggi harus dimulai dari tempat yang rendah.
Dengan demikian dalam system pendidikan agama Ru-Khonghucu, penekanan ‘bagaimana kita hidup kini’  menjadi satu hal pokok. Bagaimana kita hidup nanti adalah perkara sesudah bagaimana kita hidup kini.  Dalam konteks ini kita sering terjebak pada adanya pemisahan antara hubungan vertical dan hubungan horizontal.

Coba kita simak pengertian Agama (Jiao) dalam kitab Zhong Yong Utama: 1, Firman Tian itulah dinamai Xing (Watak Sejati), berbuat mengikuti Watak sejati itulah menempuh Dao (Jalan Suci), Pimpinan untuk menempuh Dao itulah  Jiao (Agama).


RENUNGAN PADA DIRI KITA SENDIRI

Adalah suatu kenyataan yang kasat mata, dalam masyarakat kita, kata agama acapkali diartikan sebagai suatu ajaran yang mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan-Allah. Sedangkan etika moralitas kehidupan yang mengatur hubungan horisontal seolah-olah menjadi sesuatu yang terpisah dari pembelajaran dan hidup keberagamaan seseorang.

Kata iman menjadi suatu istilah yang seolah hanya mencakup kepercayaan seseorang terhadap kekuatan transenden semata (vertikal). Maka tidak mengherankan dalam khasanah istilah keagamaan  Ru-Khonghucu (khususnya di Indonesia), tafsir  Cheng sebagai iman oleh sebagian ahli bahasa (atau yang mengerti bahasa Hua Yu) dan rohaniwan (yang mengerti bahasa Hua Yu) menjadi dianggap  sebagai sesuatu yang ‘menyimpang’ dari pengertian sebenarnya. Bagi penulis, perbedaan pandangan dari sebagian kalangan terhadap tafsir ini tidak terlepas dari adanya pengertian umum yang terpisah antara hubungan vertikal manusia dengan Tian dengan hubungan horizontal dengan sesama manusia.  

Bila pendekatan terhadap tafsir Cheng sebagai iman dipandang dari kacamata  agama Ru-Khonghucu  sendiri dan bukan menggunakan ukuran ajaran agama orang lain, kata iman sebagai tafsir Cheng bisa diterima, karena iman disini dipandang sebagai suatu ketulusan hati kita untuk mengikuti Tian dan FirmanNya. Seperti juga kita bisa berkaca dari ketulusan alam semesta mengikuti alurnya.  

Dengan pendekatan seperti ini, maka iman disini bukan sekedar hubungan manusia dengan Allah dalam arti yang dimengerti oleh umum, tetapi juga keaktifan sesorang untuk mengikuti Firman Tian yang telah dikaruniakan di dalam dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian iman dalam agama Ru-Khonghucu mencakup hubungan vertikal dan horizontal.

Dengan berdasar pada cara pandang seperti ini pulalah kita perlu ‘mengembalikan’ makna iman itu dalam proses pendidikan agama dan keagamaan Ru-Khonghucu di Indonesia (untuk tidak memberi arti baru bagi cheng).


KESATUAN PENDIDIKAN

Sudah dikatakan, titik berat pendidikan menurut agama Ru-Khonghucu adalah pendidikan bagaimana kita HIDUP sebagai manusia sekarang dan kini. Secara garis besar dalam Si Shu Wu Jing pendidikan untuk HIDUP mencakup: Pendidikan di Rumah, di Sekolah dan dalam Masyarakat (lembaga keagamaan).

Pendidikan rumah tangga harus dilihat dari strategi membereskan rumah tangga yang ada dalam Da Xue Bab Utama-4. Dimulai dari meneliti hakikat tiap perkara, mencukupkan pengetahuan, mengimankan tekad, meluruskan hati, membina diri. Dengan demikian seorang anak di rumah dididik untuk cerdas, kritis dan didasari etika moral yang baik. Keteladanan orang tua sebagai pelaku aktif menjadi satu keharusan yang tidak dapat ditawar. Dengan demikian rumah tangga akan menjadi lingkungan yang baik dan memberi dasar bagi  anak dalam berbagai pilihannya dalam kehidupan masyarakat.

Di sekolah, pendidikan juga tidak berarti hanya sepihak mengajari murid, melainkan juga menuntut diri sendiri untuk bersama-sama belajar. Guru sewajarnya terus meningkatkan kualitas pribadinya baik dalam etika moral maupun pengetahuan profesinya. Tanpa upaya sadar meningkatkan kualitas, seorang guru akan gagal dalam mengemban misinya sebagai orang yang patut di ‘gugu’ dan di’tiru’, diikuti dan ditiru.

Hal ini berlaku pula dalam konteks kelembagaan modern - di luar sekolah - yang dinamakan kelembagaan agama. Seorang rohaniwan/agamawan dituntut untuk meningkatkan pengetahuan sesuai profesinya, terlebih untuk  meningkatkan kualitas dirinya. Dalam jaman modern yang menuntut spesialisasi berdasarkan profesi, kegagalan seorang rohaniwan/agamawan akan lebih berdampak serius karena posisi rohaniwan/agamawan adalah guru dalam masyarakat yang telah mengambil posisi yang sangat penting dalam tatanan masyarakat di Indonesia.

     Dengan pendidikan dan keteladanan yang tepat di rumah, di sekolah dan di lingkungan keagamaan dapat diharapkan  terbentuk suatu tatanan masyarakat cerdas, kritis dan ber etika moral yang baik. Dengan demikian dapat diharapkan terbentuk masyarakat dalam tatanan yang sesuai  “nama”, dari situlah akan muncul para  pemimpin, penegak hukum, ilmuwan, usahawan dan profesi lainnya yang berkualitas baik profesi maupun ahlak moralnya yang akan menjadi pendorong tercapainya Indonesia yang bersih, maju, adil  dan makmur.


PENDIDIKAN SEKOLAH

Kita sepakat, Junzi adalah model manusia dalam agama Ru-Khonghucu. Dalam masa modern Junzi  bukan sesuatu yang berada jauh diangan-angan, tetapi sesuatu yang bisa ada di depan mata, di dalam masyarakat Indonesia dan dunia.
Jalur pendidikan yang tersedia untuk mewujudkan manusia Junzi adalah pendidikan yang terpadu dalam: rumah tangga, sekolah dan lembaga keagamaan.

Dalam mewujudkan para siswa yang dipenuhi semangat belajar sebagai modal dasar seorang Junzi - kendati pendidikan sekolah tidak bisa diartikan sebagai satu-satunya pendidikan yang dapat membentuk Siswa-Junzi - kita bisa memulai dari pendidikan agama Ru-Khonghucu di sekolah dengan titik berat BUDI PEKERTI, pendidikan mengenai bagaimana kita hidup sekarang dan kini dalam hubungan kemasyarakatan, dalam benarnya nama-nama, dalam perilaku tepat yang  tentunya dalam konteks Waktu (Kini), Ruang (Indonesia), dan Manusia (Kita). Ini tidak berarti meninggalkan pembelajaran mengenai Jingzhuo dan ritual sembahyang..
Titik berat pada pendidikan BUDI PEKERTI diartikan sebagai upaya mendorong siswa mempraktekan nilai-nilai hakiki agama yang dianut dalam kehidupan nyata, kini dan sekarang. Hanya Kebajikan Tian berkenan tidak menjadi pemanis semata.

Sekali lagi perlu ditegaskan,  penekanan pada pendidikan BUDI PEKERTI jangan diartikan sebagai sesuatu yang terpisah dari nilai hakiki agama Ru-Khonghucu yang kita anut sehingga menjadi sesuatu ‘aturan’ yang hambar tak bermakna.

Dengan kata lain, keyakinan tentang After Life biarlah tetap ada dalam hati sanubari dan iman kita,  kewajiban kita yang utama sesuai kodrat kita sebagai mahluk jasmani dan rohani adalah mengejawantahkan anugerah Tian (Xing) agar senantiasa selaras dengan Dao.

Dengan tidak mengecilkan tujuan kita hidup beragama dalam kitab Li Ji dan Zhong Yong, mari kita renungkan ayat ini:
“Maka seorang yang mempunyai Kebajikan Besar niscaya mendapat kedudukan, mendapat berkah, mendapat nama dan mendapat panjang usia” (Zhong Yong XI:2)


PENDIDIKAN GURU

Mencermati kondisi yang ada sekarang ini dalam pendidikan agama dan keagamaan Ru-Khonghucu di Indonesia, tidak dapat dipungkiri kita sangat tertinggal di hampir semua sektor. Baik sarana, prasarana, dana  maupun sumber daya manusia kita sangat terbatas (kalaupun ada tidak teralokasi dengan baik) dan bahkan memprihatinkan, belum lagi kondisi sosial kemasyarakatan yang belum normal dan masih dalam keadaan ‘darurat’.

Kondisi ini memberikan tantangan tersendiri bagi kita sebagai para rohaniwan, agamawan, pendidik, pemerhati pendidikan, pembuat kebijakan serta pemerintah.

Penulis berpendapat, dalam keadaan darurat seperti sekarang ini dalam mengejar ketertinggalan, pola pengajaran pendidikan agama dan keagamaan bagi guru-guru agama Ru-Khonghucu tidak bisa dilakukan dengan konvensional. Perlu adanya pola darurat pula dalam mengatasi keadaan ini.

Untuk penyediaan tenaga pengajar/guru di sekolah, perlu adanya masa tenggang sekurang-kurangnya 5 tahun kedepan terutama  dalam persyaratan tenaga  pengajar. Dalam hal ini lembaga terkait, yaitu Depdiknas, Depag  bersama MATAKIN perlu membuat suatu kebijakan bersama yang mengatur masalah ini dalam periode tersebut yang diikuti dengan sosialisasi ke daerah-daerah dan ke sekolah-sekolah agar kebijakan yang dibuat dapat segera diimplementasikan.

Dibidang pencetakan tenaga pengajar, baik dosen maupun guru agama Ru-Khonghucu, penulis mengusulkan agar Perguruan Tinggi Agama Ru-Khonghucu yang pertama dibentuk mengikuti format Universitas Terbuka. Format Universitas Terbuka merupakan format yang penulis yakini paling sesuai dengan kondisi yang penuh keterbatasan seperti sekarang ini dalam menyediakan dosen dan guru agama Khonghucu di Indonesia. Sebagai Dosen dapat mengambil para rohaniwan senior ataupun dosen-dosen yang memang kompeten baik dari dalam maupun luar negeri. Bahan-bahan pengajaran bisa diambil dari literature yang ada baik dari dalam maupun luar negeri dengan tidak meninggalkan kekhasan Indonesia. Penggunaan internet dalam proses belajar mengajar dapat dipertimbangkan.

Kalau memungkinkan dalam sistem pendidikan Indonesia, pencetakan calon dosen dan guru agama Ru-Khonghucu pararel dilakukan untuk jenjang S1 dan S2. Dengan demikian, lulusan S2 dapat lebih dahulu menghasilkan lulusan, karena pendidikan S2 memerlukan waktu lebih singkat dibandingkan studi S1.  Mahasiswa bisa diambil dari umat Khonghucu yang berlatar belakang S1/S2 berbagai bidang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia dengan test masuk tertentu. Dengan demikian tenaga-tenaga pengajar di Perguruan Tinggi Agama Ru-Khonghucu dan Perguruan Tinggi Umum untuk pelajaran agama Ru-Khonghucu  yang sesuai dengan peraturan perundangan dapat tersedia (dari dalam negeri) dalam 2-5 tahun kedepan.

Untuk Pendidikan S1 Agama Ru-Khonghucu, mahasiswa bisa diambil dari lulusan sekolah menengah atau S1 yang merasa terpanggil untuk belajar agama Ru-Khonghucu atau sekurang-kurangnya dari Pengurus lembaga Agama Ru-Khonghucu di seluruh Indonesia yang memenuhi persyaratan minimal pendidikan.    

Dengan pola seperti ini, diharapkan lima tahun kedepan kita dapat menyediakan tenaga pengajar/guru agama Ru-Khonghucu lulusan S1 sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

-uung-
Quote   
Page 1 / 1
Login with Facebook to post
Preview