GENTA ROHANI > ARTIKEL UTAMA > KONTROL
PENDIDIKAN RELIGIUS FILOSOFIS YANG MENUMBUH KEMBANGKAN MANUSIA JUNZI
Page 1 / 1
PENDIDIKAN RELIGIUS FILOSOFIS YANG MENUMBUH KEMBANGKAN MANUSIA JUNZI
07/08/2011 10:58 pm

Moderator
Junior Member


Regist.: 06/15/2011
Topics: 8
Posts: 1
OFFLINE
PENDIDIKAN RELIGIUS FILOSOFIS  YANG MENUMBUH KEMBANGKAN MANUSIA JUNZI
Oleh: Uung Sendana



Kalau kita perhatikan cara pendidikan agama Ru-Khonghucu di Indonesia, secara umum dapat kita simpulkan bahwa telah terjadi dua cara berbeda dalam titik berat pendidikannya.
     Cara pendidikan yang dilakukan oleh generasi terdahulu atau sering disebut ‘umat Ru-Khonghucu tradisionil’ lebih menonjolkan aspek ‘religi’. Ini dapat dilihat dari upacara-upacara sembahyang yang kerap dilaksanakan. Orang-orang tua mengajarkan cara-cara bersembahyang kepada anak-anaknya, tanpa diimbangi dengan pengetahuan agama yang memadai. Kerap kali sembahyang yang dilaksanakan tidak dimengerti makna dan asal usulnya sebagai upacara keagamaan. Si anak tidak tahu mengapa dia harus bersembahyang kepada yang ia sembahyangi.
     Ternyata hal ini membawa akibat  intelek si anak merasa tidak puas karena tidak tahu apa makna kegiatan yang ia wajib lakukan itu. Si anak lalu mencari jawabannya di luar lingkungannya. Maka dia memperoleh ‘jawaban’ dari orang-orang yang sama-sama tidak mengerti, yang memberi bumbu-bumbu, yang membawa misinya sendiri. Maka timbullah kesimpulan-kesimpulan berdasarkan jawaban-jawaban yang ia terima. Akibatnya adalah kegoyahan iman, ia mulai berpaling dari  ‘agama’ tradisinya. Hal ini diperburuk dengan adanya pandangan dari luar yang menganggap ajaran ini hanyalah suatu kepercayaan belaka.
     Pandangan ini sebetulnya dapat dimengerti, karena pengetahuan agama dari umat yang awam akan ajaran Ru-Khonghucu tidak memadai. Hal ini terjadi, sebagai akibat  metoda pengajaran yang hanya menekankan aspek ‘religi’ belaka tanpa diimbangi aspek etika atau filsafat dari ajaran Ru-Khonghucu dari generasi sebelumnya. Dengan pendidikan semacam ini, timbul kepercayaan yang tanpa diimbangi dengan suatu tuntunan untuk mendapatkan keyakinan. Jadilah orang-orang beranggapan bahwa Ru-Khonghucu adalah suatu kepercayaan.
     Generasi sekarang, terutama setelah diadakan pelembagaan agama Ru-Khonghucu, cara pendidikannya lebih menitik beratkan etika/filsafat. Mungkin hal ini sebagai suatu akibat pengalaman-pengalaman masa lalu yang membawa dampak buruk tersebut, dirasakan perlunya pendidikan mengenai etika/filsafat dari ajaran Ru-Khonghucu, untuk memuaskan intelek yang selalu ingin tahu.
     Dunia berubah begitu cepat, disatu pihak umat Ru-Khonghucu mempelajari ajaran Ru-Khonghucu sebagai tradisi dan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi. Acapkali umat Ru-Khonghucu ini menjadi kehilangan identitas keagamaannya dan dengan mudah dialihkan keyakinan agamanya, sehingga digiring untuk tidak menganggap apa yang diajarkan oleh para leluhurnya sebagai agama,sekedar bungkus tradisi dan budaya turun temurun.
Banyak orang yang tidak mengerti mengapa orang melakukan ibadah tahun baru imlek atau Qing Ming misalnya, maka sekarang menjamur ibadah imlek atau Qing Ming yang dilakukan di tempat ibadah lain dan dengan pemaknaan dan penamaan yang aneh terhadap upacara keagamaan tersebut. Bahkan para Shen Ming di rumah ibadat agama Ru-Khonghucu yang bernama Miao atau di Indonesiakan menjadi kelenteng berganti nama, atau bahkan rumah ibadat tersebut juga berganti nama pula. Padahal dibalik semua wujud fisik rumah ibadat tersebut terkandung filosofi dan lambang-lambang berdasarkan Si Shu Wu Jing.
     Dilain pihak, sebagian orang, dengan berbagai kepentingan yang mendasarinya, justeru menganggap Ru-Khonghucu hanyalah sebuah filsafat atau etika dan juga bukan agama karena apa yang dipelajarinya hanyalah sisem filsafat dan etika dari ajaran Ru-Khonghucu dengan tanpa mau peduli dengan aspek Ketuhanan dan ritual yang diajarkan dalam ajaran Ru-Khonghucu.
     Pada kenyataannya, pembelajaran yang semata-mata menekankan filsafat dan etika juga membawa konsekuensi tersendiri. Orang mempelajari ajaran Ru-Khonghucu karena merasa tertarik atas keindahan sastera yang terkandung di dalamnya, tanpa menyentuh spiritualitas dirinya. Orang mempelajari ajaran Ru-Khonghucu seperti mempelajari mata pelajaran matematika, fisika, filsafat, sejarah, ilmu bumi, biologi dan mata pelajaran sekolah lainnya yang boleh diterapkan atau tidak diterapkan dalam kehidupannya. Mungkin dia dapat menjadi seorang ahli dalam ajaran Khonghucu, tetapi dia tidak bertindak selaku penganut Khonghucu. Dia boleh saja menjadi seorang ahli ajaran Khonghucu dan memperoleh gelar Doktor dibidang filsafat Khonghucu, tetapi tidak berupaya meneruskan apa yang telah dipelajarinya kepada anak-cucunya sebagai ‘ilmu’ untuk menuntun kehidupannya.
Maka pendidikan kedua, membawa akibat yang sama ‘buruk’nya dengan metoda pengajaran yang pertama, apalagi dengan semakin banyaknya janji-janji dari pihak-pihak yang berkepentingan untuk menghimpun umat sebanyak-banyaknya, ‘karena yang banyak adalah yang  benar’.
Pendidikan semacam ini menjadikan orang kurang memperhatikan aspek religinya, hubungan dengan Tian semakin jarang dilakukan, bersembahyang hanya di rumah ibadat saja. Kesadaran untuk bersembahyang kehadirat Tian seorang diri di rumah mengalami erosi. Upacara sembahyang senantiasa dilaksanakan secara bersama-sama, padahal justeru aspek sentuhan batin, haus akan hubungan denganNya merupakan suatu aspek yang amat penting bagi pembentukan iman kita. Jadilah kerawanan iman, agama Ru-Khonghucu hanya dipandang sebagai suatu etika atau falsafah hidup semata. Tidak mengherankan tidak sedikit ‘ahli-ahli’ ajaran Khonghucu yang menjawab kehausannya dengan menganut agama lain.
     Menarik sekali membaca tulisan Y.B. Mangunwijaya dalam bukuny “Menumbuhkan Sikap Religius Anak-anak”. Ia membagi manusia menjadi dua:
1.     Manusia agamawan, yang lebih menunjuk kepada kelembagaan dengan aspek-aspek resminya, seperti peraturan-peraturan, tata ibadah, keanggotaan, pengertian-pengertian agama secara intelektuil, cara-cara berdoa dan sikap-sikap lahiriah.
2.     Manusia religius, yang lebih menunjuk kapada aspek “di dalam lubuk hati”, getaran-getaran hati nurani pribadi serta sikap batiniah yang menimbulkan rasa kagum, hormat, cinta, syukur, dan rendah hati di hadapan Tuhan.
Apabila kita kaji arah pendidikan yang sekarang dilakukan oleh lembaga kita, ada kecenderungan membentuk manusia yang agamawan, ‘lebih menunjuk kepada aspek kelembagaannya’.
     Sebagian orang lebih mementingkan aspek kelembagaan ini. Litang, yang merupakan salah satu sarana untuk memberikan pelajaran agama mulai dijadikan tujuan. Tulisan-tulisan, kotbah-kotbah atau kegiatan lainnya sebagian besar mengarah kepada aspek ini. Bahkan pendidikan di sekolah yang berjalan selama ini tanpa disadari mengarah kepada aspek ini pula. Tata ibadah, misalnya, yang diajarkan adalah tata ibadah berkebaktian.
     Banyak orang yang mengira untuk memahami agama Ru-Khonghucu cukup hanya mengambil beberapa ayat saja atau hanya mengambil beberapa bagian tertentu saja. Padahal untuk mengerti seluruhnya, kita harus membaca secara keseluruhan.
     Agama Ru-Khonghucu tidaklah terdiri dari satu dua aspek saja, tetapi mencakup banyak aspek. Aspek-aspek yang ada kerap berkaitan satu dengan lainnya.
     Keseluruhan alam semesta ini bukan sekedar dapat berbicara bahwa ia memang ada, bahwa ia dapat masuk ke dalam fikiran, tetapi kitapun menghadapinya dengan sifat hakikat kemanusiaan yang sepenuhnya, sebab sentral ajaran agama Ru-Khonghucu adalah ajaran tentang kemanusiaan.
     Agama Ru-Khonghucu merupakan agama yang Religius-Filosofis, yang mengandung suatu pelajaran filsafat, sekaligus mencakup aspek religinya.
     Maka pendidikan agama Ru-Khonghucu haruslah mencakup aspek Filosofis dan aspek Religius yang mengarahkan peserta didik untuk berperilaku berdasarkan pemahaman Religius-Filosofis terhadap hasil pendidikan agama yang diterimanya.
     Dalam aspek persembahyangan misalnya, satu hal yang sering dilupakan umat Ru-Khonghucu adalah kebiasaan bersembahyang kepada Tian secara pribadi.
Dari sudut psikologi, semua perbuatan manusia adalah ekspresi dari sikap manusia, melakukan hal-hal religius adalah suatu macam perbuatan manusia, jadi disinipun ada ekspresi dan ada sikap, berarti cara manusia menempatkan diri dalam alam semesta, dalam hubungannya dengan Tian, dengan kosmos dan dengan sesama manusia.
     Dengan bersembahyang dan berdoa, manusia memasuki ‘alam lain’, yaitu suatu komunikasi dengan Yang Maha Kuasa, baik untuk mengucap syukur, maupun memohon perlindungan/memohon berkahNya. Dalam sembahyang orang melihat realitas dari seluruh kosmos dengan cara yang lain.
Dengan sembahyang dalam hubungannya dengan Tian, maka dirinya merasa rendah di hadapan Tian, merasa banyak kekurangan, kesalahan dan dosa dan pada saat bersamaan mensyukuri anugerah Yang Maha Kuasa. Hidup di atas dunia realitas, seakan merupakan suatu lingkaran yang terbatas, yang penuh dengan segala kesalahan, kemaksiatan, kesenangan duniawi yang seakan mengikat manusia.
     Dengan melakukan sembahyang lingkaran itu terterobos. Orang mengerti bahwa benda-benda di atas dunia ini seharusnya merupakan  alat untuk mengikuti Watak Sejati, mengikuti FirmanNya. Disamping itu, manusia mengerti akan kekurangan-keku-rangannya, kelemahannya, ketidak mampuannya. Dengan bersembahyang, semua ini diakui, dan yang paling penting adalah ada unsur bersujud kepada Tian, karena kepercayaan kepada Tian Yang Maha Kuasa, yang mempunyai hukum-hukum mutlak, seakan mengancam dengan Hukum-hukumnya apabila manusia tidak mentaati firmanNya.
     Dengan cara inilah, manusia diharapkan dapat memulai hidup barunya, untuk memperbaharui diriNya dengan lembaran-lembaran hidup yang lebih baik. Dari sikap ini manusia memperlihatkan dirinya menurut apa adanya, sifat dan sikap terbuka, sifat dan sikap jujur.
     Bukankah dalam hidup seringkali kita menutupi kesalahan? Jangankan pelanggaran moral yang berat, kesalahan kecilpun biasanya disembunyikan. Manusia berusaha menyembunyikan kesalahan-kesalahannya.
Lain halnya dalam bersembahyang,      misalnya, mereka yang di rumahnya mem-punyai meja abu (hio lo), biasanya apabila akan bersembahyang ce it-cap go atau melaksanakan upacara-upacara penting lainnya, ia mandi, keramas, bahkan melaksa-nakan ‘cia-cai’. Ini menunjukkan vahwa dirinya itu kotor, penuh kesalahan dan dosa ma-ka ia membersihkan diri. Tampak kejujuran orang dalam bersembahyang.
     Doa-doa yang dilakukan di tempat formal secara bersama-sama, adalah berbeda dengan yang dilakukan sendiri. Manusia adalah mahluk jasmani rohani, rohaniah biasanya tampak dari lahiriah, tetapi dengan sengaja lahiriah bisa saja sekedar berpura-pura, manusia bisa saja berbuat seakan-akan bersembahyang bila sedang bersama-sama, lain halnya apabila timbul dari niat sendiri atau dengan kesadaran sendiri untuk melaksanakan sembahyang.
     Akhirnya, timbullah rumusan-rumusan doa yang mungkin muluk-muluk akan tetapi tanpa jiwa yang setulusnya. Sembahyang  dilakukan hanya untuk memperlihatkan bentuk lahiriahnya saja, bukan sembahyang dengan makna dan jiwa. Dari sini nampak bentuk sembahyang yang ‘otentik’, dengan yang dibuat-buat. Dalam sembahyang yang ‘otentik’ manusia benar-benar secara empiris berkomunikasi dengan Tian, dengan segala kejujuran, terbuka, melepas kedok, mengakui kesalahan-kesalahan, kelemahan-kelemahan, kekurangan-kekurangan dan dosa-dosanya dan beryukur atas seluruh anugerah yang telah dilimpahkan oleh Tian kepada dirinya.
     Dengan bersembahyang sendiri, dalam bermenung tentang sikap-sikap Junzi akan menjadikan orang sadar akan kekurangan-kekurangannya dalam menjalankan Kebajikan dan hidup dalam Jalan Suci yang tengah direnungkannya itu. Dari sini biasanya timbul tekad untuk merehabilitasi dirinya untuk lebih baik. Dengan sikap demikian, secara perlahan tetapi pasti akan menjadikan imannya semakin tumbuh.
     Manusia bersembahyang kepada Tian seakan-akan berhadapan dengan Tuhan sebagai Maha Pribadi, selama pandangan ini belum ada, maka belum dapat dikatakan ‘Religi’.
     Pengakuan percaya kepada Tian sebagai Khalik, Maha Kuasa, Maha Pemberkah, Maha Kokoh Hukum-Hukumnya, selama belum melalui pelaksanaan sembahyang sendiri dan hanya sekedar pengakuan saja, belumlah dapat dikatakan Religi. Religi baru ada apabila manusia ‘mau berkomunikasi dan berdialog’ dalam bersembahyang kepada Tian, berkomunikasi dan berdialog  dengan ketulusan dan kesujudan yang dalam. Tanpa adanya hal ini, sembahyang hanya mengarahkan murid menjadi manusia yang agamawan, bukan manusia yang religius”.  
     Maka dalam pendidikan bersembahyang bukanlah sekedar mengajarkan murid tata cara atau perlengkapan upacara di rumah ibadat, tetapi terlebih bagaimana sikap dan perlengkapan sembahyang di rumah atau yang bersifat pribadi. Dengan demikian anak didik akan memahami bahwa sembahyang bukanlah sekedar kewajiban ritual semata, tetapi lebih dalam dari itu.
Filsafat dimulai dari berpikir, lalu maju berkembang menuju keyakinan, sedangkan Religi dimulai dari kepercayaan. Identitas agama Ru-Khonghucu adalah agama yang Religius-Filosofis, maka seharusnya cara yang ditempuh dalam memberikan pendidikan adalah melalui kedua-duanya, tanpa dijalankankan kedua-duanya, maka terjadi kepincangan.
     Pendidikan yang cenderung ke arah ‘religius’ saja tidak dapat dibenarkan dan berbahaya, karena tanpa pemahaman segi ajaran Filsafatnya bisa menimbulkan kepercayaan yang ngambang dan mudah goyah. Begitu pula sebaliknya.
     Dengan sistem Religius yang Filosofis, kembali menumbuhkan kepercayaan umat Ru-Khonghucu terhadap apa yang paling fundamental dalam ajaran agama Ru-Khonghucu, yaitu Keyakinan bahwa Hanya Kebajikanlah Satu-satunya yang Berkenan di hadapan Tian, sehingga sebagai manusia, wajib memiliki yang satu itu.
     Misalnya, Keyakinan Hanya Kebajikan Satu-satunya yang berkenan di hadapan Tian dimulai dengan hal yang pokok dan fundamental dalam agama Ru-Khonghucu, yaitu Bakti. Dalam agama Ru-Khonghucu, bakti terdiri dari lima macam yang dikenal dengan “Wu Dai Xiao” (Lima Bakti Besar): kepada Tian, kepada tanah Air, kepada Negara kepada Orang Tua, kepada Guru.
     Dalam Lun Yu I: 2 di sabdakan, “…Seorang Junzi mengutamakan pokok; sebab, setelah pokok itu tegak, Jalan Suci akan tumbuh. Laku Bakti dan Rendah Hati itulah Pokok Cinta Kasih.”
     Dalam Xiao Jing I: 4 disabdakan, “Sesungguhnya Laku Bakti itu ialah pokok Kebajikan; daripadanya ajaran Agama berkembang..”
Maka peserta didik perlu memahami mengapa ia mesti berbakti kepada orang tua sehingga dalam perilaku sehari-hari terdorong untuk berperilaku bakti. Maka perlu disampaikan secara Religius-Filosofis sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
Bakti merupakan suatu ungkapan isi hati yang menunjukkan kebesaran Tian. Eksistensi diri kita adalah berkat kedua orang tua, orang tua berkat kakek-nenek, kehadiran kakek-nenek berkat ada leluhur, dst.
Manusia selalu mempertanyakan dirinya dari mana ia berasal, dan secara sadar sentuhan realitas yang tak dapat dibantah, bahwa manusia berasal dari orang tua, ini adalah cara berfikir yang sederhana dan mudah diterima oleh setiap orang.
Orang tua dan leluhur telah diberi kepercayaan oleh Tian untuk mengadakan eksistensi manusia ke dalam dunia ini. Atau dengan kata lain, Tian menciptakan manusia melalui wali yang dipercayaiNya, yaitu orang tua. Adalah wajar apabila manusia harus menghargai, menghormati wakil atau wali yang menjadi perantara si Pemberi. Penghormatan bukan didasarkan kepada baik dan buruknya wakil atau wali tersebut, akan tetapi yang menjadi dasarnya adalah siapa yang memberinya. Apa timbal balik rasa terima kasih kita kepada yang memberi? Bagaimana sikap kita kepada wakil/wali/ perantara dari yang memberi? Sudah tentu rasa hormat, rasa syukur dengan berusaha memelihara dan menjaganya dengan baik.
Mungkin ada orang yang beranggapan bahwa umat Ru-Khonghucu lebih mementingkan bakti kepada orang tua ketimbang pada Tian. Memang dipandang dari realitas nampaknya demikian, tetapi kita harus ingat bahwa manusia adalah mahluk jasmani-rohani. Ia sebagai mahluk individu yang rohaniah, mungkinkah ia menjadi sadar tentang diri pribadinya, tanpa sentuhan dengan alam jasmaniah?
Hal ini menunjukkan bahwa manusia hanya akan mengalami diri sendiri sebagai persona rohaniah, karena denganmengalami diri sendiri sebagai mahluk jasmani dan dalam mengalami diri sendiri sebagai mahluk lahiriah, sudah tentu segala yang rohaniah akan bersentuhan dengan jasmaniahnya dan dengan alam sekitarnya.
Demikian pula Bakti kepada Tian. Karena Tian bersifat Maha Roh, apakah manusia dengan kesadarannya akan mampu bersentuhan dengan Yang Maha Roh itu? Sudah tentu tidak mungkin. Manusia mempunyai hukumNya yang harus ditaati.
Kekuasaan Yang Maha Roh itu merealisasikan kekuasaanNya atas penciptaan manusia melalui hukumNya, yaitu manusia hadir ke dunia melalui orang tua. Maka umat  manusia merealisasikan baktinya kepada Tian melalui realisasi Hukum Tian ini kepada orang tua yang menjadikan keberadaannya di dalam dunia.
Penekanan Bakti kepada orang tua, bukan berarti kita melalaikan bakti kepada Tian, sama sekali tidak, sebab pada waktu sembahyang kepada orang tua dan leluhur yang telah mendahulu, yang pertama harus dilakukan adalah bersembahyang kepada Tian terlebih dahulu.
Intelek manusia tidak akan mampu berfikir tentang masalah-masalah akhir dan yang menentukan, yaitu masalah-masalah mengenai keberadaan, keabadian, mati, roh-roh suci, shen ming dsb. Kesemuanya itu akhirnya akan kembali kepada Yang Maha Esa, Khalik Awal Mula, Maha Besar, Pemberkah dan Kokoh Hukumnya.
Yang paling penting dari rasa bakti adalah menumbuhkan rasa hormat, kesadaran, adanya ikatan antara eksistensi dirinya, orang tua-leluhur dengan Tian. Dengan demikian dasar dan keyakinan kepada Tian tetap ditanamkan, teladan Nabi Kongzi dijadikan bukti bahwa masalah sujud, hormat dan sembahyang kepada Tian sebagai patokan utama disamping bakti kepada orang tua.
Dari bakti, dikembangkan kepada ritus dan kultus yang bersifat sakral, lebih suci dan lebih khusus, yakni kepada tata cara upacara tertentu seperti: Sembahyang sincia, sembahyang kepada Tian, sembahyang Twan Yang, sembahyang Jing He Ping, sembahyang Qing Ming, sembahyang Zhong Qiu, dsb
Semuanya itu adalah sikap-sikap religius umat Ru-Khonghucu dan perlu diperlengkapi dengan makna-makna upacara tersebut yang dikaitkan dengan ajaran filosofis Nabi Kongzi.
Semua upacara sembahyang tersebut sebetulnya berkaitan dengan keseluruhan alam semesta. Akan lebih bijaksana apabila makna-makna sembahyang tersebut diuraikan dengan dasar filosofis kesemestaan Nabi Kongzi, ketimbang dikaitkan dengan legenda atau cerita sejarah. Dengan demikian akan jauh lebih mengandung arti hakikat agama Ru-Khonghucu itu sendiri.
Dua arah vertical dan horizontal atau lebih dikenal dengan Yin-Yang, lebih mewarnai setiap tata cara upacara suci. Di satu pihak berkaitan dengan ajaran Filosofis tentang kesemestaan Nabi Kongzi, dilain pihak direalisir dalam legenda-legenda, cerita sejarah untuk sekedar lebih mudah dijadikan sifat religius yang merakyat.
Di satu pihak memahami hakikat-hakikatnya, di lain pihak berwujud lambang-lambang, di satu pihak bersifat melangit, di lain pihak membumi. Kesemuanya itu harus selalu ada kebersamaan antara yang Religius dengan yang Filosofis.
Dari sanalah dapat diusahakan dapat tercapainya keharmonisan; dengan keharmonisan terselenggara keimanan. Sifat-sifat religius lebih bersifat individu, maka ajaran-ajaran Filosofis menjadi penyempurna sifat Religius.
Demikian pula dalam materi pendidikan Perilaku Junzi, tentunya yang dimaksudkan adalah Budi Pekerti yang berdasarkan Keimanan yang pokok dari agama Ru-Khonghucu. Dengan demikian aspek Religius dan Filosofis dapat terpenuhi. Bila Budi Pekerti sekedar diajarkan sebagai Budi Pekerti maka Budi Pekerti itu menjadi kurang bermakna. Tetapi dengan mengajarkan perilaku Junzi, Budi Pekerti dipahami dan  dilaksanakan karena kesadaran peserta didik sebagai mahluk pengemban Firman. Hubungan horisontal dengan sesama berdasarkan kebajikan adalah pemuliaannya kepada Tian yang telah menganugerahkan Firman Tian di dalam dirinya.
Dengan menanamkan  sifat-sifat  religius sekaligus pendidikan Filosofis, akan menjadi cara tercapainya pertumbuhan iman peserta didik. Mereka akan menjalankan apa yang diajarkan dalam kelas di dalam kehidupan sehari-hari karena memahami dan mengimani secara Religius-Filosofis. Dengan demikian para guru  akan menempatkan pendidikan agama Ru-Khonghucu pada tempat yang terhormat dan bermanfaat bagi individu murid, bagi masyarakat, bagi bangsa, bagi Negara dan bagi kemanusiaan.
Maka apa yang diajarkan di sekolah mendorong murid-murid Ru-Khonghucu menjadi manusia-manusia yang religius, manusia yang lebih menunjuk terbentuk aspek “di dalam lubuk hati”, getaran-getaran hati nurani pribadi serta sikap batiniah yang menimbulkan rasa kagum, hormat, cinta, syukur, dan rendah hati di hadapan Tuhan dan bukan sekedar manusia-manusia  agamawan, manusia, yang lebih menunjuk kepada kelembagaan dengan aspek-aspek resminya, seperti peraturan-peraturan, tata ibadah, keanggotaan, pengertian-pengertian agama secara intelektuil, cara-cara berdoa dan sikap-sikap lahiriah saja.
Inilah yang dimaksudkan oleh para pendahulu kita mempelajari agama Ru-Khonghucu dalam jalan yang lebih tinggi, “Si Shu Wu Jing dapat memberi penjelasan kepada saya” dan bukan sekedar “Saya dapat memberi penjelasan kepada Si Shu Wu Jing.”
Bukan sekedar menjadi ahli agama, tetapi perilaku yang berpedoman kepada Si Shu Wu Jing. Anak didik mengartikan keimanan dalam makna sebenarnya dari aksara  ‘Cheng’, yaitu satunya kata dengan perbuatan, karena kejujuran dan ketulusan hati mengikuti Firman Tian.
Perlu diberi catatan tersendiri, pendidikan agama adalah pendidikan praktis dan bukan sekedar pendidikan teoritis, keteladanan guru akan berbicara lebih banyak dari perkataan sang guru. Maka orang jaman dahulu mengatakan Guru adalah orang yang di gugu dan di tiru. Ucapannya diikuti, tindakannya ditiru. Memang demikianlah adanya, memberi pendidikan memacu untuk mendidik diri kita sendiri.
Keseluruhan pendidikan agama Ru-Khonghucu yang dituangkan dalam Standar Kompetensi dan kompetensi dasar, akhirnya bermuara pada Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran Agama Ru-Khonghucu sesuai dengan jenjang pendidikan seperti dituangkan dalam Lampiran Peraturan Menteri pendidikan Nasional Nomor 48 tahun 2008 tanggal 1 September 2008 untuk masing-masing jenjang:

SEKOLAH DASAR:
1.     Memahami tentang dirinya sebagai mahluk ciptaan TIAN dengan melakukan ibadah sebagai ungkapan Iman dan rasa syukur kepadaNya
2.     Melaksanakan Firman TIAN dalam hidup sehari-hari sebagai cerminan ketaqwaan kepadaNya
3.     Memahami akan ajaran Agama Khonghucu sebagai dasar pengembangan diri menjadi manusia Junzi (berbudi luhur)
4.     Memiliki kecakapan dan kecerdasan spiritual sehingga mamupu hidup dalam Cinta kasih (saling menyayangi sesama), menjunjung tinggi kebenaran, berbuat susila, bijaksana, dan menjadi insan yang dapat dipercaya dalam hidup
5.     Meneladani sifat, sikap, dan kepribadian Nabi kongzi
6.     Hidup berbakti/bermakna bagi keluarga

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
1.     Memahami tentang dirinya sebagai mahluk ciptaan TIAN dengan melakukan ibadah sebagai ungkapan Iman dan rasa syukur kepadaNya
2.     Melaksanakan Firman TIAN dalam hidup sehari-hari sebagai cerminan ketaqwaan kepadaNya
3.     Memahami akan ajaran Agama Khonghucu sebagai dasar pengembangan diri menjadi manusia Junzi (berbudi luhur)
4.     Memiliki kecakapan dan kecerdasan spiritual sehingga mamupu hidup dalam Cinta kasih (saling menyayangi sesama), menjunjung tinggi kebenaran, berbuat susila, bijaksana, dan menjadi insan yang dapat dipercaya dalam hidup
5.     Meneladani sifat, sikap, dan kepribadian Nabi Kongzi
6.     Hidup berbakti/bermakna bagi keluarga
7.     Hidup berbakti/bermakna bagi masyarakat dan lingkungan sekitar

SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
1.     Memahami tentang dirinya sebagai mahluk ciptaan TIAN dengan melakukan ibadah sebagai ungkapan Iman dan rasa syukur kepadaNya
2.     Melaksanakan Firman TIAN dalam hidup sehari-hari sebagai cerminan ketaqwaan kepadaNya
3.     Memahami akan ajaran Agama Khonghucu sebagai dasar pengembangan diri menjadi manusia Junzi (berbudi luhur)
4.     Memiliki kecakapan dan kecerdasan spiritual sehingga mamupu hidup dalam Cinta kasih (saling menyayangi sesama), menjunjung tinggi kebenaran, berbuat susila, bijaksana, dan menjadi insan yang dapat dipercaya dalam hidup
5.     Meneladani sifat, sikap, dan kepribadian Nabi Kongzi
6.     Hidup berbakti/bermakna bagi keluarga
7.     Hidup berbakti/bermakna bagi masyarakat dan lingkungan sekitar
8.     Hidup berbakti/bermakna bagi bangsa dan Negara

Dengan sistem pendidikan seperti inilah maka materi pendidikan yang meliputi aspek-aspek keimanan, Perilaku Junzi, Tata Ibadah, Kitab Suci Agama Ru-Khonghucu (Si Shu Wu Jing) dan Sejarah Suci akan mencapai tujuan pendidikan agama Ru-Khonghucu seperti yang dimaksud dalam Peraturan Pendidikan Menteri Pendidikan    Nasional No. 47 tahun 2008 :
     menumbuh kembangkan iman melalui pemahaman, pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, serta pengalaman peserta didik tentang Watak sejati-nya sehingga menjadi manusia berbudi luhur (Junzi);
     mewujudkan manusia Indonesia yang sadar tugas dan tanggung jawabnya baik secara vertical kepada Tian, maupun secara horizontal kepada sesama manusia dan alam semesta.
Yang lebih lanjut dijabarkan dalam Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Point A, “… Pendidikan Agama Khonghucu di harapkan menghasilkan manusia berbudi luhur (junzi) yang mampu menggemilangkan Watak Sejatinya, mengasihi sesama dan berhenti pada Puncak Kebaikan. Dalam kehidupan kesehariannya diharapkan mampu berhenti pada Tempat Hentian sesuai dengan kedudukannya sehingga mampu memuliakan 5 (lima) hubungan kemanusiaan (hubungan antara orang tua – anak, hubungan antara pemimpin –  pengikut, hubungan suami – isteri, hubungan kakak – adik, hubungan kawan – sahabat)…”
Demikian pemikiran mengenai metoda pendidikan agama Ru-Khonghucu di sekolah, sebagai bahan renungan para guru agama Ru-Khonghucu dalam menjalankan tugas suci dan mulia membimbing siswa menjadi manusia-manusia Junzi yang dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, Negara dan kemanusiaan.
Selamat berkarya dan mengabdi, Hanya Kebajikan Tian Berkenan
Huang Yi Shang Di, Wei Tian You De. Shanzai.

Dibawakan pada Pelatihan Guru Agama Khonghucu tahun 2010 di Jakarta dan Surabaya yang dilaksanakan atas kerjasama Pusat Kerukunan Umat Beragama dengan Pusat Pendidikan dan Latihan Kementerian Agama RI.
Bahan sebagian besar diambil dari tulisan di Media Informasi dan Komunikasi Genta Rohani Bandung  edisi ke 10, Februari 1988 dan edisi 11, Maret 1988 dengan  judul Religius-Filosofis karya bersama Uung Sendana dan Teddy Setyawan karena banyak point-pointnya yang masih relevan untuk perbekalan para guru agama Ru-Khonghucu.

- uung -
Quote   
Page 1 / 1
Login with Facebook to post
Preview