Nilai-nilai Agama Khonghucu dalam Mewujudkan Hidup Damai
Dibawakan dalam Seminar Sehari “Pengembangan Budaya Damai di Kalangan Umat Beragama” 14 Desember 2009, Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama.
Oleh: Uung Sendana L. Linggaraja
Pendahuluan
Bila kita membaca sejarah umat manusia, damai adalah suatu keadaan yang senantiasa diidam-idamkan. Keinginan akan adanya damai timbul karena kenyataan menunjukkan konflik dan peperangan datang silih berganti mewarnai sejarah peradaban manusia.
Bila kita menelusuri sejarah, kita melihat suasana damai adalah suasana yang jauh dari kenyataan. Nenek moyang kita (sampai kita) merasakan pilunya perang penaklukan suatu negara atas negara, bangsa atas bangsa, perang saudara, pergantian pemerintahan dengan kekerasan, penjajahan dan banyak lagi kejadian yang mewarnai kehidupan manusia. Bahkan dalam sejarah peradaban manusia, kita juga pernah melalui fase perang bersimbolkan agama.
Dalam seratus tahun terakhir ini saja, manusia telah melalui dua perang dunia yang meluluh lantakan kehidupan dan membawa dampak yang begitu mengerikan dan memilukan. Untuk mengakhiri Perang Dunia ke II memerlukan bom atom.
Yang masih terus berlangsung dan terus diupayakan solusi damai yang abadi adalah perang antara Israel dan Palestina yang bila tidak ditangani dengan baik akan menyeret pada issu perang agama.
Pertikaian dalam lingkup yang lebih kecil juga terjadi antara kelompok-kelompok etnis, ras, golongan dan ‘agama’, bahkan dalam kelompok etnis, ras, golongan dan ’aga-ma’ itu sendiri.
Lebih lanjut, konflik, pertikaian dan peperangan juga terjadi dalam lingkup yang lebih kecil lagi, dalam rumah tangga dan dalam diri pribadi kita masing-masing.
Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah diturunkan ke dunia bukan pada saat dunia damai, tetapi justeru pada saat dunia penuh dengan konflik, penjajahan oleh si kuat terhadap si lemah, dendam, keserakahan, kekacauan dan terlebih hilangnya rasa kemanusiaan.
Berbagai Agama telah diturunkan Shang Di , Khalik Pencipta Alam Semesta memperkaya mozaik kehidupan, disatu sisi patut disyukuri sebagai bukti kebesaran Allah Yang Maha Kuasa, tempat kita untuk mengerti dan memahami indahnya kehidupan yang penuh dengan keaneka ragaman warna; dilain pihak sejarah mencatat, karena keterbatasan manusia dalam mengartikan kebesaran Allah, justeru agama pernah menjadi alat justifikasi perang membela kebenaran agama.
Pemahaman atas sejarah bukan dimaksudkan untuk menunjukkan keburukan suatu agama atau mengklaim kebenaran suatu agama terhadap penganut agama lainnya, tetapi justeru menjadi cermin bagi kita, umat manusia agar tidak mengulangi kekeliruan tersebut.
Makalah ini seperti (yang tentunya) dimaksudkan panitia, bertujuan memberi sumbangan bagi peserta seminar, Departemen Agama, lebih jauh bagi bangsa Indonesia dan umat manusia adanya pemahaman yang benar atas peran agama yang berbeda-beda sebagai sumber damai dan peran serta upaya tokoh-tokoh agama menanamkan budaya damai kepada umatnya.
Dengan keterbatasan pengetahuan penulis, ijinkanlah penulis menyampaikan makalah sederhana dalam Seminar ini, yang penulis beri judul “Nilai-nilai Agama Khonghucu dalam Mewujudkan Hidup Damai”
Membina Diri Untuk Tercapai Damai Di Dunia
Kendati agama Khonghucu bukan diciptakan oleh Tian Zi Mu Duo Kongzi (Nabi Khongcu), latar belakang kehidupan Beliau membawa pengaruh dalam sistem pengajaran agama Khonghucu dalam mengembalikan umat manusia ke dalam Dao (Jalan Suci). Oleh karena itu pengetahuan latar belakang kehidupan Beliau sangat penting dalam upaya memahami agama Khonghucu.
Tian Zi Mu Duo Kongzi (Nabi Khongcu) dilahirkan dan hidup pada jaman Chun Qiu, - pada waktu raja muda Lu Xiang Gong memerintah 22 tahun dan Kaisar Zhou Ling Wang memerintah 21 tahun, pada tanggal 27 Ba Yue 551 sM di negeri Lu, kota Zou Yi desa Chang Ping di lembah Kong Sang (kini Jazirah Shandong, kota Qu Fu) - suatu jaman ketika kekuasaan Kaisar melemah, raja muda dan kaum bangsawan saling berebut pengaruh.
Jaman ini ditandai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang sedang mengalami kemerosotan yang parah; pertentangan antara orang tua dengan anak, atasan dan bawahan, adik dan kakak menjadi suatu pemandangan umum dan acap kali terjadi, nilai-nilai persahabatan luntur, dikuasai oleh ambisi dan ego manusia. Tatanan Li rusak berat. Nilai-nilai kebajikan seakan menjadi absurd dan kehilangan makna. Tidak meng-herankan, rakyat sangat merindukan hidup rukun, tenang-tenteram, damai sentosa.
Dari latar belakang inilah, Da Xue (Ajaran Besar) salah satu Kitab dalam Si Shu (Kitab yang Empat), salah satu Kitab Suci Agama Khonghucu, menuntun umat manusia, turut serta mewujudkan damai di dunia. Kami kutipkan ayat-ayat dalam Kitab tersebut,
“Dengan meneliti hakekat tiap perkara dapat cukuplah pengetahuan; dengan cukup pengetahuan akan dapatlah mengimankan tekad; dengan tekad yang beriman akan dapatlah meluruskan hati; dengan hati yang lurus akan dapatlah membina diri; dengan diri yang terbina akan dapatlah membereskan rumah tangga; dengan rumah tangga yang beres akan dapatlah mengatur negeri; dan dengan negeri yang teratur akan dapat dicapai damai di dunia.
Karena itu dari raja sampai rakyat jelata mempunyai satu kewajiban yang sama, yaitu mengutamakan pembinaan diri sebagai pokok.
Adapun pokok yang kacau itu tidak pernah menghasilkan penyelesaian yang teratur baik, karena hal itu seumpama menipiskan benda yang seharusnya tebal dan menebalkan benda yang seharusnya tipis. Hal ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi.”
“Maka seorang Junzi tidak boleh tidak membina diri; bila berhasrat membina diri, tidak boleh tidak mengabdi kepada orang tua; bila berhasrat mengabdi kepada orang tua, tidak boleh tidak mengenal manusia, dan bila berhasrat mengenal manusia, tidak boleh tidak mengenai kepada Tian (Tuhan Yang Maha Esa).”
“Adapun yang dikatakan ‘untuk membereskan rumah tangga harus lebih dahulu membina diri’ itu ialah: di dalam mengasihi dan mencintai biasanya orang menyebelah; di dalam menghina dan membenci biasanya orang menyebelah; di dalam menjunjung dan menghormati biasanya orang menyebelah; di dalam menyedihi dan mengasihi biasanya orang menyebelah; dan di dalam merasa bangga dan agungpun biasanya orang menyebelah. Sesungguhnya orang yang dapat mengetahui keburukan pada apa-apa yang disukai dan mengetahui kebaikan pada apa-apa yang dibencinya, amat jaranglah kita jumpai di dunia ini.”
“Adapun yang dikatakan ‘untuk mengatur Negara harus lebih dahulu mem-bereskan rumah tangga’ itu ialah: tidak dapat mendidik keluarga sendiri tetapi dapat mendidik orang lain itulah yang takkan terjadi. Maka seorang Junzi (luhur budi) biar tidak keluar rumah, dapat menyempurnakan pendidikan di negaranya. Dengan berbakti kepada ayah bunda, ia turut mengabdi kepada raja; dengan bersikap rendah hati, ia turut mengabdi kepada atasannya; dan dengan bersikap kasih sayang, ia turut mengatur masyarakatnya.
Bila di dalam tiap keluarga saling mengasihi niscaya seluruh Negara akan di dalam cinta kasih. Bila dalam setiap keluarga saling mengalah niscaya seluruh Negara akan di dalam suasana saling mengalah. Tetapi bilamana orang tamak dan curang, niscaya seluruh Negara akan terjerumus ke dalam kekalutan; demikianlah semuanya itu berperanan. Maka dikatakan sepatah kata dapat merusak perkara dan satu orang dapat berperanan menenteramkan Negara.”
“Adapun yang dikatakan ‘damai di dunia itu berpangkal pada teraturnya negera’ ialah: Bila para pemimpin dapat hormat kepada yang lanjut usia, niscaya rakyat bangun rasa baktinya; bila para pemimpin dapat berendah hati kepada atasannya, niscaya rakyat bangun rasa rendah hatinya; bila para pemimpin dapat berlaku kasih dan memperhatikan anak yatim piatu, niscaya rakyat tidak mau ketinggalan. Itulah sebabnya seorang Junzi mempunyai Jalan Suci yang bersifat siku.
Apa yang tidak baik dari atas tidak dilanjutkan ke bawah; apa yang tidak baik dari bawah tidak dilanjutkan ke atas; apa yang tidak baik dari muka tidak dilanjutkan ke belakang; apa yang tidak baik dari belakang tidak dilanjutkan ke muka; apa yang tidak baik dari kanan tidak dilanjutkan ke kiri; apa yang tidak baik dari kiri tidak dilanjutkan ke kanan. Inilah yang dinamai Jalan Suci yang bersifat siku.”
“Pemimpin Negara yang hanya mengutamakan harta saja, menunjukkan dia seorang xiao ren (rendah budi). Jika perbuatan rendah budi dianggap baik; maka akan datanglah malapetaka bagi Negara itu. Bila hal ini sudah terjadi meski datang seorang yang baik, iapun tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Maka dikatakan ‘suatu Negara janganlah menganggap keuntungan sebagai keberutungan, tetapi pandanglah kebenaran sebagai keberuntungan.”
Agama Khonghucu mengajarkan pada umat manusia bila ingin mencapai tempat yang jauh harus dimulai dari dekat, bila ingin mencapai tempat yang tinggi harus dimulai dari bawah. Agama Khonghucu juga memprioritaskan hal pokok dan membelakangkan yang tidak pokok. Agama Khonghucu menempatkan kebajikan sebagai hal pokok, kekayaan sebagai ujung; bila mengabaikan yang pokok dan mengutamakan yang ujung meneladani rakyat berebut.
Dari ayat-ayat di atas, dapat kita simpulkan, tercapainya damai di dunia tidak dapat dipisahkan dari unit-unit lebih kecil suatu dunia: individu-individu, rumah tangga, masyarakat dan Negara beserta peranan pokoknya masing-masing: sebagai rakyat, pembantu, atasan, bawahan, suami, isteri, adik, kakak, orang tua, anak, kawan, pemimpin dan seterusnya.
Peranan individu, orang perorang, terlebih individu yang menjadi pemimpin sangatlah penting dalam mewujudkan damai di dunia. Pengutamaan pokok adalah suatu keniscayaan dalam mencapai hal-hal yang besar. Sejarah dunia telah berkali-kali membuktikan, konflik dan peperangan seringkali diawali kekeliruan seorang individu yang kebetulan menjadi pemimpin. Konflik dan peperangan acapkali terjadi karena kurangnya kesadaran pada hakikat kehidupan di dunia. Disinilah peran besar hakikat hidup beragama.
Semua Manusia Bersaudara
Bagaimana peran agama? Agama merupakan bimbingan hidup manusia agar membaharui diri dan membina diri, hidup dalam Dao (Jalan Suci), yaitu mengikuti Xing (Watak Sejati), yaitu Tian Ming (Firman Tian) yang ada di dalam diri setiap insan tanpa terkecuali.
Dalam keyakinan agama Khonghucu, semua manusia dilahirkan sederajat, tidak ada seorang manusia atau suatu bangsa yang lebih mulia dari manusia dan bangsa lainnya. Pada saat dilahirkan ke dunia, semua manusia tanpa terkecuali telah dianugerahi Xing (Watak Sejati), Tian Ming (Firman Allah) berupa benih-benih kebajikan Ren Yi Li Zhi, Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan dan Kebijaksanaan sehingga tidak ada satupun manusia atau bangsa di dunia ini yang berhak mengklaim dirinya lebih tinggi kemuliaannya dibanding yang lain.
Atas dasar nilai hakiki inilah seorang individu maupun suatu bangsa dapat hidup berdampingan dan berinteraksi satu dengan lainnya.
Karena kesadaran akan kesetaraan manusia di mata Allah Yang Maha Kuasa, atas perbedaan ras, etnisitas, agama, budaya, dan sebagainya seorang umat Khonghucu yang Junzi senantiasa berpatokan pada Golden Rule, ‘apa yang diri sendiri tiada inginkan jangan diberikan kepada orang lain’, namun demikian seorang umat Khonghucu yang Junzi tidaklah bersikap pasif dalam kehidupan melainkan senantiasa berusaha pula menjalankan prinsip ‘agar dapat tegak berusaha agar orang lain tegak, agar maju berusaha agar orang lainpun maju’
Akhirnya, seorang Junzi menjauhkan sikap keluh gerutu kehadapan Tian, sesal penyalahan pada sesama manusia dan berkeyakinan di empat penjuru samudera semua manusia bersaudara. Dalam menyikapi perbedaan keyakinan agama, Nabi Khongcu bersabda, “Bila berlainan Dao (Jalan Suci), jangan berdebat.” (US)
Tantangan-Tantangan
Dalam interaksi sehari-hari umat Khonghucu tidaklah hidup dalam lingkungan yang homogen, tetapi dalam lingkungan yang heterogen. Dalam interaksi inilah timbul tantangan-tantangan terhadap prinsip-prinsip yang diajarkan oleh agama. Dari uraian di atas, jelas budaya damai diajarkan mulai dari pribadi-pribadi meluas ke dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan dunia. Itu yang diwajibkan dalam ajaran agama Khonghucu pada umatnya.
Di lain pihak umat beragama lain walaupun kami yakini diajarkan pula menganai budaya damai namun tentu dengan cara yang mungkin berbeda dan dalam prakteknya bisa saja terjadi gesekan karena perbedaan cara dan aplikasi oleh umatnya.
Mengamati realitas yang ada dalam kehidupan sehari-hari umat Khonghucu, tantangan terbesar atas budaya damai ini terutama dari kelompok-kelompok tertentu penganut agama Kristen yang merasa perlu menyelamatkan dunia dengan menjadikan umat di luar Kristen sebagai Kristen dengan istilah ‘menuai jiwa’ karena dengan ‘menuai jiwa’ maka sorga sebagai ganjarannya karena telah memberi keselamatan.
Banyak cara yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ini baik secara individual maupun secara kelompok, baik oleh pemimpin agamanya maupun oleh umatnya dalam kehidupan bermasyarakat. Antara lain dengan membahas kitab-kitab Khonghucu baik dalam kebaktian-kebaktian, pertemuan pribadi ke pribadi maupun buku-buku tetapi dengan versinya sendiri dan di dalamnya justeru mendiskreditkan agama Khonghucu atau ‘membudayakan’ agama Khonghucu serta mengklaim agamanya sebagai satu-satunya agama yang mutlak benar dan satu-satunya agama yang dapat memberi keselamatan.
Mungkin kelompok ini tidak tergabung dalam PGI, tetapi justeru kelompok inilah yang rentan mengakibatkan gesekan di dalam masyarakat, oleh karena itu perlu dipikirkan bersama jalan keluar atas permasalahan ini. Apakah mungkin memanggil kelompok-kelompok seperti ini untuk berdialog atau bahkan dibuat regulasi atas persoalan ini. Tugas kita bersama memikirkan persoalan ini, agar budaya damai yang diajarkan tidak menjadi terganggu.
-uung-