 Moderator Junior Member

Regist.: 06/15/2011 Topics: 8 Posts: 1
 OFFLINE | Keteladanan dan Pendidikan Ahlak Moral:
Kunci Kesinambungan Semangat Berjuang Tanpa Pamrih
Makalah ini ditulis November 2010, dimuat dalam buku Apa dan Siapa Legiun Veteran Republik Indonesia DPD LVRI DKI Jakarta 2010-2011 dengan beberapa penyesuaian seperlunya.
Oleh: Uung Sendana
Disabdakan dalam kitab Mengzi, salah satu kitab dari kitab Si Shu-Wu Jing, kitab suci agama Ru-Khonghucu,
“Tanah air harus dijaga dari generasi ke generasi, tidak boleh ditinggalkan sekedar pertimbangan pribadi. Bersiaplah untuk mati, tetapi jangan pergi.”
“Tuhan melihat seperti rakyat melihat, Tuhan mendengar seperti rakyat mendengar”
Para Pahlawan Republik Indonesia telah membaktikan jiwa dan raga, berjuang tanpa pamrih dalam memperjuangkan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perjuangan dilakukan oleh para veteran yang berasal dari berbagai suku dan etnis: Aceh, Ambon, Batak, Bali, Jawa, Makasar, Sunda, Tionghoa dan lain-lain, bahu membahu dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Semangat seperti inilah yang senantiasa harus terus bergelora dalam dada setiap anak bangsa dalam mempertahankan dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi Negara yang lebih aman, tenteram, bersatu, madani, egaliter, makmur, adil, sejahtera, berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
Penanaman nilai-nilai dan semangat juang para pahlawan kepada generasi penerus tidak akan terjadi dengan sendirinya, tetapi harus diupayakan dan diperjuangkan.
Keteladanan merupakan ujung tombak penanaman nilai-nilai luhur dan mulia ini. Para pemimpin semestinya memberi keteladanan dalam penghargaan kepada para pahlawan, bukan sekedar dengan kata-kata, tetapi terlebih dengan tindakan nyata. Tanpa keteladanan para pemimpin, penanaman nilai-nilai dan semangat juang para pahlawan dalam memperjuangkan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. Disabdan. Keteladanan pemimpin laksana angin berhembus, kemana angin berhembus, kesanalah rumput merunduk. Kemana pemimpin mengarah, kesanalah rakyat akan mengikuti.
Pada saat sekarang ini, nilai-nilai juang sedang menghadapi tantangan, bahkan penggerusan oleh materialisme. Kemuliaan dan keluhuran budi seseorang sedang mendapat tantangan yang keras oleh budaya yang materialistis. Ukuran keberhasilan seseorang seakan ditentukan oleh seberapa banyak materi yang berhasil dikumpulkan seseorang, nama baik seseorang juga seakan ditentukan oleh seberapa kaya seseorang. Hal inilah yang mendorong keserakahan dan korupsi. Korupsi seakan telah membudaya. Hal ini sangat mengancam persatuan dan kesatuan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Sekarang kebanyakan orang bekerja dan berkarya semata ditentukan oleh materi, hanya sedikit orang yang mau berkerja, berkarya dan berjuang tanpa pamrih. Sungguh suatu situasi yang jauh berbeda; semangat yang jauh berbeda dengan apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan, para pejuang penegak kemerdekaan Republik Indonesia yang mempertaruhkan jiwa dan raga, berjuang tanpa pamrih demi tegaknya NKRI. Bila hal ini tidak segera dan secepat mungkin diatasi, apa yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan, para veteran dan para founding fathers bangsa Indonesia akan menjadi perjuangan yang berujung pada kesia-siaan.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya, sungguh suatu ungkapan yang mengandung kebenaran. Kita dapat melihat dan menyaksikan, bangsa-bangsa yang maju adalah bangsa-bangsa yang sangat menghargai bahkan memuliakan para pahlawannya. Mengapa begitu? Lagi-lagi dimulai dari keteladanan dan komitmen para pemimpinnya untuk melakukan itu, sehingga rakyat akan mengikuti.
Disabdakan dalam kitab suci agama Ru-Khonghucu, “Seorang Junzi memuliakan tiga hal, memuliakan Firman Tian (Tuhan Yang Maha Esa), memuliakan orang-orang besar dan memuliakan sabda para Nabi.” (Lun Yu XVI:8)
Dalam mewujudkan kembali nilai-nilai kebajikan, semangat juang tanpa pamrih sebagai motor penggerak pembangunan, mengisi kemerdekaan, sebagai hal yang pokok dan menyeimbangkan bahkan mengatasi materialisme yang merajalela, peranan para tokoh agama, ulama, rohaniwan sangat penting.
Para tokoh agama, para ulama, para rohaniwan perlu berkomitmen bersama untuk berfokus pada pendidikan ahlak moral dalam menyampaikan dakwah, kotbah, uraian agama kepada umatnya, dan tentu saja memberi keteladanan bahwa Kebajikan itulah yang pokok dan kekayaan itulah yang ujung.
Tuhan Yang Maha Esa akan melimpahkan rahmat dan berkah atas kebajikan yang kita lakukan, bukan atas kekayaan yang kita kumpulkan, apalagi bila kekayaan itu dikumpulkan dengan mengabaikan kebajikan.
“Harta benda menghias rumah, laku bajik menghias diri.” Kewajiban kita sebagai manusia bukan hanya menghiasi rumah dengan harta benda, tetapi telebih lagi menghiasi diri kita, hati kita dengan kebajikan karunia Tuhan Yang Maha Esa melalui pendidikan agama yang menekankan pada ahlak moral.
Sekaranglah saatnya, bukan besok atau nanti, para pemimpin Negara, pemimpin daerah, tokoh-agama, ulama, rohaniwan, tokoh masyarakat, para orang tua menjadi teladan, berani mengatakan benar adalah benar, salah adalah salah berdasarkan kebijaksanaan, cinta kasih dan keberanian. ”Yang dapat mendorong pemimpinnya untuk menempuh kesukaran, itulah orang yang menghormatinya. Yang dapat memberi nasehat baik dan mengecam kekeliruan pemimpinnya, itulah orang yang mengindahkannya. Tetapi orang yang mengatakan bahwa pemimpinnya tidak mungkin dapat melakukan itu, dialah seorang pencuri.” (Mengzi IVA: 1)
Dengan demikian masyarakat akan diingatkan kembali pada hal yang pokok dan hal yang tidak pokok; hal yang mendapat rahmat dan berkah Tuhan Yang Maha Esa dan hal yang tidak berkenan dihadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Penghargaan atas perjuangan yang telah dilakukan oleh para pahlawan, terlebih lagi keteladanan atas semangat berjuang tanpa pamrih untuk menegakkan kebenaran dan keadilan akan terus menggelora dalam hati setiap anak bangsa, bila diawali dengan semangat berbakti kepada orang tua. “Puncak laku bakti adalah memuliakan orang tua.” Semangat berbakti ini akan meluas kepada berbakti kepada nusa, bangsa dan Negara. Semangat berbakti diteladankan di dalam rumah melalui keteladanan dan pendidikan agama dari para orang tua yang didapatkan dari pendidikan agama dari para tokoh agama, ulama dan rohaniwan kepada umatnya.
Begitulah, semangat berbakti merupakan pokok kebajikan, dari semangat berbakti inilah kebajikan-kebajikan lainnya akan tumbuh subur di setiap hati insan.
“Orang-orang sering membicarakan masalah-masalah dunia, Negara dan rumah tangga. Sesungguhnya pokok dasar dunia itu ada pada Negara, pokok dasar Negara itu ada pada rumah tangga, dan pokok dasar rumah tangga itu ada pada diri sendiri.” (Mengzi IVA: 5)
Kita akan menjadi bangsa yang besar karena tahu akan hal yang pokok dalam kehidupan ini. Kita punya harapan untuk menjadi bangsa yang besar karena tidak menyia-nyiakan apa yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu, para pahlawan, para pejuang, dan para veteran, bangsa yang menghargai dan memuliakan para pahlawannya.
Dengan cara itulah, sebenarnya esensi penghargaan pada orang-prang besar dan makna terdalam dari kata bijak “The Old Soldier is Never Die”, para pendahulu kita tidak pernah akan mati meninggalkan kita, walaupun sudah tua sekalipun, bahkan telah berpulang keharibaan Kebajikan Tuhan Yang Maha Esa. Semangatnya akan tetap menggelora dalam hati setiap anak bangsa demi tegak dan majunya NKRI yang dipenuhi rahmat Tuhan Yang Maha Esa..
Sungguh Maha Besar Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Esa Memberkati Kebajkan!! Huang Yi Shang Di, Wei Tian You De. Shanzai
Jayalah Indonesia!! (US)
|