 Administrator Cool Senior Member

Anmeldung: 07 / 04 / 2011 Themen: 20 Beiträge: 1
 OFFLINE | JAKARTA: Goethe Institut Jakarta menyelenggarakan pameran instalasi arsitektur interaktif dengan tema "Bangunan Peka-Arsitektur Tanggap Lingkungan" di Museum Nasional Indonesia mulai besok 6 Juli sampai 21 Juli 2011.
Para arsitek, insinyur dan desainer terus berusaha mencari jalan bagaimana bangunan dapat lebih hemat energi, ramah lingkungan dan nyaman. Pameran bertajuk "Bangunan Peka" ini membahas arsitektur reaktif, yang dapat menyesuaikan diri secara dinamis dengan iklim, cuaca, perencanaan atau pengguna.
Tujuh instalasi yang dipamerkan di sini mempresentasikan ide-die yang menarik. Sebagian berorientasi pada alam, yang lainnya mencari jawab pada bencana alam atau bencana yang disebabkan ulah manusia, seperti yang dipresentasikan oleh arsitek Indonesia yang mencoba mengatasi kerusakan lingkungan sungai Ciliwung dan dampak meletusnya gunung Merapi.
Pameran ini dikurasi oleh Uwe Rieger, guru besar tamu untuk desain, ketua departemen arsitektur di School of Architecture and Planning University of Auckland.
Instalasi yang dipamerkan adalah "Ciliwung Recovery Programme (CPR)" dari Rezza Rahdian, Erwin Setiawan, Ayu Diah Shanti, Leonardus Chrisnantyo, Mario Lodeweik Lionar dan Petrus Narwastu, "Rumah Siap Pakai dari Bambu" karya Yuli Kusworo dan Morisco Kadyo.
Karya lainnya "WideShut" dari XTH-Berlin, "ShipingLandscape" dari XTH-Berlin dan Duncan Lewis, "CitySail" dari XTH-Berlin dan Duncan Lewis, "Silver Pneu" dari Frances Cooper, Seth Munn dan Jordon Saunders, "Light Arch" dari Jordan Saunders, Paul Lelieveld dan Seth Munn.
Pada kesempatan ini akan diselenggarakan seminar pada 6 Julia dengan tema "Bangunan Peka - Arsitektur Tanggap Lingkungan: Peran Sains dalam pendidikan Arsitektur" dengan pembicara Uwe Rieger dan moderator Direktur Rujak Center for Urban Studies Marco Kusumawijaya. (bsi)
|