Pendahuluan
Kata Xiao(Bakti) pernah sangat mendominasi khasanah kehidupan manusia.
Sebutan anak Bu Xiao (tidak berbakti) merupakan suatu ‘mantera’ terburuk yang diucapkan oleh orang tua kepada anaknya.
Seiring perjalanan waktu, kata (dan perbuatan) Bakti seakan memudar seiring derap perkembangan jaman, yang diikuti oleh pergeseran nilai-nilai.
Makna Bakti mendapat tantangan yang luar biasa. Istilah Bakti atau tidak berbakti seakan menjadi perbendaharaan kuno dalam kosa kata jaman modern.
Masih relevankan Bakti?
Berada pada posisi mana Bakti dalam agama Ru-Khonghucu?
Lupakan Bakti?
Bakti (Xiao) Pokok Cinta Kasih
Nabi bersabda, “Seorang muda, di rumah hendaklah berlaku Bakti, di luar hendaklah bersikap Rendah Hati, hati-hati sehingga dapat dipercaya, menaruh cinta kepada masyarakat dan berhubungan erat dengan orang yang berperi cinta kasih. Bila telah melakukan hal ini dan masih mempunyai kelebihan tenaga, gunakanlah untuk mempelajari kitab-kita.”
Disini Nabi hendak memberi pesan kepada kita (orang muda) 4 modal permulaan dalam menempuh
Dao, yaitu sikap kita di dalam rumah (Bakti), sikap kita di luar rumah (rendah hati), lingkungan yang dipilih (bergaul dengan orang yang berperi Cinta Kasih), dan mempelajari kitab-kitab.
Youzi berkata, “Seorang yang dapat berlaku Bakti dan Rendah Hati, tetapi suka menentang atasan, sungguh jarang terjadi; tidak suka menetang atasan, tetapi suka mengacau, ini belum pernah terjadi. 2. Maka seorang
Junzi mengutamakan pokok, sebab setelah pokok itu tegak,
Dao akan tumbuh. Laku Bakti dan Rendah Hati itulah pokok peri Cinta Kasih.”
Terlihat disini,
Xiao atau Bakti bagi umat Ru-Khonghucu merupakan hal paling dasar yang mesti dilakukan. Dengan kita melaksanakan
Xiao (Bakti), kita menapaki
Ren Dao(Jalan Suci Manusia) untuk harmonis dengan
Tian Dao(Jalan Suci Tian).
Agama Ru-Khonghucu selalu mengajarkan kita mengutamakan pokok dan membelakangkan yang ujung. Sebab kalau pokok itu kacau, bagaimana akan tercipta keharmonisan? Mencapai yang jauh dimulai dari dekat, yang tinggi dimulai dari yang rendah. Dengan urut-urutan seperti ini tentu saja kehidupan kita akan selaras dengan
Dao.
Dengan Kata lain, seseorang tidak dapat menjadi seorang yang penuh Cinta Kasih bila di dalam rumahnya sendiri tidak berlaku Bakti. Dan apa yang diperlukan agar sukses dalam pergaulan dengan ‘orang lain’, ya sikap Rendah Hati dan bergaul dengan orang yang penuh cinta kasih (ingat cerita ibu Meng Zi?). Sisanya: Baca kitab!!
Kenapa Bakti Pokok Cinta Kasih?
Teringat masa kecil, ada sebuah lagu berjudul Kasih Ibu, demikian kurang lebih liriknya, Kasih ibu kepada beta, tak tekira sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Begitulah kasih orang tua kepada kita, tanpa pamrih. Tapi bagaimana kasih kita sebagai anak? Tidak persis sebagai reaksi yang timbal balik dengan kasih sayang orang tua kepada anak. Kasih orang tua tanpa pamrih, kasih kita pada orang tua tanpa pamrih juga? Xiao (Laku Bakti) adalah kasih anak kepada orang tua tanpa pamrih (tulus). Dalam Xiao terkandung elemen respect, dedication, love, care, compassion. Dengan diawali dan didasari barbakti (dipenuhi iman/ketulusan) kepada orang tua, barulah kita akan mengerti mengenai arti Cinta Kasih dalam hubungan-hubungan yang lain. Bukankah orang tua adalah orang paling dekat dengan kita? Maka dikatakan bila hendak mencapai yang jauh harus mulai dari yang dekat.
Bakti adalah cinta seorang generasi n+1 kepada generasi n. Jika seorang anak mengasihi ayah dan ibu, ayah dan ibu mengasihi kakek nenek, buyut canggah dan seterusnya, maka ini adalah suatu jaringan (net) kemanusiaan dan akhirnya kita akan tiba pada ayah ibu kita sesungguhnya, yang dalam bahasa Hua Yu klasik adalah dafamu (the great ancestor), yaitu Tuhan sendiri, karena hakikat ayah ibu adalah yang mengadakan kita. Itu sebabnya Zheng Zai bilang Langit adalah ayahku, Bumi adalah ibuku. Langit disini bukan maksudnya atmosfir tetapi Tuhan (God with ordinance). Jaringan Xiao juga mempersatukan semua manusia, kakek nenek kita somehow, somewhere pastilah satu kita bertemu dalam simpul dalam jejaring itu. Kasih mempersatukan manusia dengan Tuhan. Kalau dalam Katolik ada santo dan santa, bagi kita ayah dan ibu adalah santa dan santo kita. (RIP)
Apakah Ada Hukumnya Jika Kita Tidak Berlaku Bakti?
Sungguh suatu pertanyaan yang menarik. Kami menduga, pertanyaan ini berasal dari pandagan kebanyakan kita bahwa hidup (beragama) adalah takaran dosa dan pahala. Menjawab pertanyaan ini tidaklah mudah, memerlukan suatu paradigma (cara pandang) ‘baru’ dalam kita belajar dan mengimani agama Ru-Khonghucu.
Kami akan menjawab dari hal paling mendasar dalam kita mengimani agama Ru-Khonghucu.
“Cheng (Iman) itulah Tian Dao (Jalan Suci Tian), berusaha hidup dalam Cheng itulah Ren Dao (Jalan Suci manusia)”.
“Cheng adalah pangkal dan ujung segenap wujud, tanpa Cheng suatupun tiada. Maka seorang Junzi memuliakan Cheng”
Apa maksud dari kedua ayat tersebut? Kami sengaja menggunakan istilah Cheng (iman), karena Cheng (iman) dalam agama Ru-Khonghucu tidaklah sama dengan ‘iman’ dalam pengertian umum. Apa sih prasyarat Cheng (iman) dalam agama Ru-Khonghucu? Apakah sama dengan ‘iman’ seperti dalam agama lain? Cheng dalam agama Ru-Khonghucu mengandung arti yang luas. Hal yang mendasari umat Ru-Khonghucu hidup di dalam Cheng (iman) adalah ketulusan hati. Apa artinya ketulusan hati? Artinya malakukan sesuatu tanpa pamrih. Melakukan apa? Melakukan fitrah kita sebagai manusia. Apa fitrah kita sebagai manusia? “Bersekutu” dengan Firman Tian. Dimana adanya Firman Tian? Di dalam diri kita. Apa bentuknya? Xing (Watak Sejati). Kenapa mesti bersekutu dengan Firman Tian? Karena kita berupaya hidup di dalam Dao (Jalan Suci). Bagaimana hidup di dalam Dao? Dengan berusaha hidup di dalam Cheng. Untuk apa kita hidup di dalam Dao? Agar bisa berada dalam Tian Dao, bersatu dengan Tian. Maka dikatakan “Cheng itulah Tian Dao, berusaha hidup dalam Cheng itulah Ren Dao”. Dalam Kitab Mengzi dikatakan kebahagiaan terbesar adalah hidup di dalam Cheng (iman).
Maka tidak berlebihan bila dikatakan, agama Ru-Khonghucu memandang keseluruhan proses kehidupan (dan kematian) berbeda dengan keyakinan umum yang kebetulan sekarang ada (dominan). Dengan demikian, dalam memandang kehidupan, agama Ru-Khonghucu berbeda pula dengan agama lain. Bila agama tertentu memandang kehidupan sebagai samsara, itu bukanlah pandangan agama Ru-Khonghucu. Bila agama yang lain memandang manusia dilahirkan dengan dosa asal, itu bukanlah pandangan agama Ru-Khonghucu. Bila agama lain memandang sesuatu dengan takaran dosa dan pahala juga bukan pandangan agama Ru-Khonghucu.
Kembali kepada pertanyaan apakah ada hukumannya bila kita tidak berlaku Bakti? Bila kita memandang kata hukuman seperti hukuman dalam istilah hukum pidana, yang langsung dikenakan karena kita melakukan suatu perbuatan jahat, penulis jawab tidak tahu. Karena hukum Tian (Li) rahasia hakikatnya. Tapi kalau ‘hukuman’ diartikan tidak akan dapat menetapi Ren Dao dan akhirnya bersatu dengan Tian (Pei Tian), penulis dengan pasti akan menjawab: Ya. Bukankah Laku Bakti adalah pokok Cinta Kasih? Tanpa pokok yang tegak, bagaimana kita bisa hidup dalam Dao? Kalau tidak bisa hidup dalam Dao, bagaimana kita akan bersatu dengan Tian? Bukankah itu jauh lebih mengerikan? Maka Nabi bersabda, “Sesungguhnya Laku bakti ialah pokok Kebajikan, daripadanya ajaran agama (Jiao, pendidikan) berkembang...”
Lalu bagaimana kalau kita merasa tidak berbakti? Perbaiki. Bukankah kesalahan terbesaradalah bila kita mengulangi kesalahan yang sama? Nabi bersabda, “Bila bersalah janganlah takut memperbaiki”.
Awal dan Akhir Laku Bakti
“Adapun Laku Bakti itu dimulai dengan melayani orang tua, selanjutnya mengabdi kepada pemimpin (nusa, bangsa dan negara) dan akhirnya menegakkan diri”
“Menegakkan diri hidup menempuh Dao (Jalan Suci) meninggalkan nama baik di jaman kemudian sehingga memuliakan ayah bunda, itulah akhir laku bakti”.
Laku bakti berawal di rumah, bahkan berawal dari diri sendiri. Laku Bakti tidak akan berakhir, karena Laku Bakti melingkupi semangat, ‘roh’, denyut nadi kehidupan itu sendiri. Bagaimana bisa berakhir?
Akhir dalam terjemahan ayat tersebut dimaksudkan Puncak Laku Bakti.
Bagaimana Sempurnanya Laku Bakti? Dikatakan dalam Zhong Yong XVIII, Nabi bersabda, “Sungguh sempurna Laku Bakti Raja Wu dan Pangeran Zhou” “Adapun yang dinamai berbakti ialah dapat baik-baik melanjutkan cita-cita mulia dan dapat baik-baik meneruskan pekerjaan mulia orang tuanya....”
Maka dikatakan, “Hatiku gundah, mengenang leluhur. Bila fajar merekah dan terjaga, di dalam dadaku hanya kedua orang tuaku.”
Memasukkan Orang Tua ke Panti Jompo Apakah Tidak Berbakti?
Jawabannya tergantung orang tua kita sendiri. Kalau orang tua kita menghendaki demikian, kenapa tidak? Kalau orang tua berkeberatan tentu saja jangan dilakukan. Kewajiban anak memberikan yang terbaik bagi orang tua.
Bagaimana Kehidupan Anak-anak Jaman Sekarang?
Jaman telah banyak berubah. Dunia semakin mengecil. Peradaban banyak bersinggungan. Maka tidak berlebihan bila dikatakan telah terjadi pergeseran nilai. Tidak terkecuali ‘nilai’ Bakti. Cerita kuno anak berbakti mungkin kelihatan aneh bagi anak-anak jaman sekarang. Sama anehnya anehnya untuk anak-anak jaman sekarang dengan alat yang dinamakan mesin tik. Tapi bukan berarti cerita kuno anak berbakti tidak relevan untuk dilakukan jaman sekarang. Cuma caranya yang berbeda. Kalau dahulu mengorbankan tubuh (digigit nyamuk, kedinginan, dsb) untuk kebahagiaan orang tua, kenapa sekarang tidak melakukan hal yang berbeda untuk membahagiakan orang tua? Bukankah masing-masing jaman punya cerita sendiri? Cerita boleh berbeda hakikat berbakti adalah sama.
Jadi kalau memang anak jaman sekarang ‘kurang berbakti’, mungkin kita mesti melihat apa yang dinamakan tidak berbakti itu sendiri. Jangan-jangan kita terlalu cepat menyimpulkan suatu perbuatan adalah tidak berbakti.
Kesimpulan
Bakti (dan Rendah Hati) dalam agama Ru-Khonghucu merupakan pokok yang mendasari manusia agar menjadi manusia yang ber Peri Cinta Kasih. Berbakti dimulai dari dalam rumah, bahkan dari diri sendiri. Berbakti adalah proses mengasah hati (ketulusan) yang harus dilalui untuk menjadi manusia yang penuh Cinta Kasih.
Untuk menjadi manusia Junzi, hal dasar yang perlu dilakukan adalah melaksanakan Bakti. Mencintai siapakah yang terbesar? Mencintai orang tua itulah yang terbesar. Bukankah ajaran agama Ru-Khonghucu sebagai penuntun hidup kita menempuh Dao, mengikuti Firman Tian (Tian Ming) berpusat pada Cinta Kasih? Bagaimana kita bisa menjadi orang yang dapat menempuh Dao bila kita tidak berbakti?
Berupaya hidup berbakti adalah upaya kita untuk hidup dalam Cheng (iman/ketulusan). Kasih orang tua bagai sang surya menyinari dunia, hanya memberi tak harap kembali. Cheng dalam berbakti mengasah kemanusiaan (Cinta Kasih) kita.
Bakti berawal di rumah (mulai dari diri sendiri), tak mengenal akhir.
Dengan diawali dan dilingkupi semangat bakti kita bisa hidup dalam Ren Dao untuk selaras dengan Tian Dao, sehingga memperoleh kebahagiaan terbesar dalam Cheng (iman/ketulusan).
Jaman boleh berubah, cerita bisa berbeda, hakikat Bakti tetaplah sama.
Pustaka:
Si Shu, Wu Jing dan Xiao Jing terbitan Matakin
Diktat RIP Tockary, House of Ru.
Kasus:
Sebagai umat Ru-Khonghucu, Mulan bimbang karena mendapat panggilan kerja diluar kota, kebingungan Mulan terutama karena bila dia mengambil pekerjaan tersebut, berarti dia harus meninggalkan orang tuanya (berumur 50 dan 55 tahun). Kebimbangan Mulan yang utama adalah apakah dia menjadi anak yang tidak berbakti? Bagi Mulan materi bukanlah segalanya, hidup di dalam Dao itulah dambaannya. Apa yang mesti Mulan lakukan? Apakah dia ambil kesempatan itu? Atau jangan? Mulan memerlukan saran dari teman-teman supaya bisa mengambil keputusan terbaik. Tolong yah...
Disampaikan pada Diskusi Pendalaman Kitab Suci (DISPENKASI) 20-22 Desember 2007)