PENDIDIKAN AGAMA KHONGHUCU:
MELETAKKAN DASAR, MENGERTI, MENGIMANI DAN MENJALANKAN AGAMA DENGAN BENAR
Oleh: Uung Sendana L. Linggaraja
Dibawakan dalam Finalisasi Kajian dan Penyempurnaan Bahan Ajar Pendidikan Agama Khonghucu, yang diselenggarakan oleh Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas di Hotel Parama Cisarua Bogor 22-24 April 2009
Dengan diturunkannya Shengren Kong Zi (Nabi Khongcu) sebagai Nabi utusan Tian Yang Maha Esa dari sekian Nabi dalam agama Ru-Khonghucu, terjadi perubahan yang sangat fundamental dalam sistem pendidikan.
Pendidikan yang awalnya hanya terbatas bagi kaum bangsawan, menjadi pendidikan bagi setiap orang yang mau belajar dengan simbolisme membawa seikat dendeng. Perubahan yang radikal ini membawa konsekuensi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Sejak jaman Nabi Khongcu, Junzi menjadi ‘model manusia’ dalam agama Ru-Khonghucu. Junzi adalah manusia yang berhasil HIDUP di dalam Firman, mengikuti Watak sejati yang telah dikaruniakan dalam diri manusia selaras dengan Dao (Jalan Suci); tidak menggerutu kehadapan Tian, tidak menyesali sesama manusia, satya mengikuti firman, tidak melakukan apa yang tidak ingin orang lain lakukan pada dirinya, membantu orang lain untuk tegak agar diri sendiri tegak serta berperilaku tepat dalam kedudukannya serta banyak lagi karakter lainnya.
REALITAS DAN TANTANGAN
Mengamati kehidupan masyarakat Indonesia dewasa ini, tidak terkecuali umat Ru-Khonghucu, kentara terlihat adanya suatu kesenjangan antara hidup beragama dengan menjalani kehidupan itu sendiri. Keberagamaan seseorang seringkali hanya dinilai dari seberapa sering dan khusuknya seseorang pergi ke tempat ibadah dan bersembahyang. Tempat ibadah semakin banyak bertebaran di berbagai pelosok daerah, tetapi hal ini tidak diimbangi kemajuan moralitas dan ahlak masyarakat kita.
Maka relevan bila kita mengkaji kembali ‘pendidikan agama’ yang telah dilaksanakan baik di sekolah, di lembaga keagamaan maupun di rumah agar tujuan pendidikan agama dapat dicapai dengan baik.
Dalam kaitan pendidikan agama Khonghucu di sekolah, ada beberapa pertanyaan yang menarik untuk diajukan: Benarkah adanya keterpisahan antara kepandaian seseorang di bidang agama dengan praktek kehidupannya? Bagaimana spirit keagamaan seseorang dapat menjadi spirit kehidupan? Dimana titik berat pendidikan agama Ru-Khonghucu, hubungan vertikal dengan Tian ataukah hubungan horizontal kita dengan sesama manusia (ren), dimana akan diletakan hubungan dengan alam semesta (khususnya alam dan lingkungan hidup)? Seberapa banyak porsi yang akan diberikan dalam pendidikan mengenai Jalan Suci Tian (Tian Dao), Jalan Suci Bumi/Alam Semesta (Di Dao) dan Jalan Suci Manusia (Ren Dao) dalam Tian Di Ren yang saling mempengaruhi. Bahan Ajar apa yang diperlukan agar dapat ditanamkan nilai-nilai yang tepat bagi siswa sebagai bangsa Indonesia yang beragama Khonghucu? Bahan Ajar apa yang diperlukan agar siswa mengerti, mengimani dan menjalankan agama Khonghucu dan menjadi anggota keluarga, warga masyarakat, warga Indonesia dan warga dunia yang baik yang aktif berkontribusi, mengerti akan makna berbeda namun satu, tanpa menjadi terkotak-kotak? Siswa seperti apa yang ingin dibentuk?
Dalam Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 47 tahun 2008 tanggal 1 September 2008 Point B dikatakan Pendidikan Agama Khonghucu bertujuan untuk:
1. menumbuh kembangkan iman melalui pemahaman, pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, serta pengalaman peserta didik tentang Watak sejatinya sehingga menjadi manusia berbudi luhur (Junzi);
2. mewujudkan manusia Indonesia yang sadar tugas dan tanggung jawabnya baik secara vertical kepada Tian, maupun secara horizontal kepada sesama manusia dan alam semesta.
Dalam Lampiran Point C mengenai Ruang Lingkup dikatakan bahwa Pendidikan
Agama Khonghucu meliputi aspek-aspek:
1. Keimanan
2. Perilaku Junzi
3. Tata Ibadah
4. Kitab Suci Agama Khonghucu (Si Shu dan Wu Jing)
5. Sejarah Suci.
PERILAKU JUNZI
Dalam Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Point A dikatakan “… Pendidikan Agama Khonghucu diharapkan menghasilkan manusia berbudi luhur (junzi) yang mampu menggemilangkan Watak Sejatinya, mengasihi sesama dan berhenti pada Puncak Kebaikan. Dalam kehidupan kesehariannya diharapkan mampu berhenti pada Tempat Hentian sesuai dengan kedudukannya sehingga mampu memuliakan 5 (lima) hubungan kemanusiaan (hubungan antara orang tua – anak, hubungan anatara pemimpin – pengikut, hubungan suami – isteri, hubungan kakak – adik, hubungan kawan – sahabat)…”
Kita sepakat, Junzi adalah model manusia dalam agama Ru-Khonghucu. Dalam masa modern Junzi bukan sesuatu yang berada jauh diangan-angan, tetapi sesuatu yang bisa ada di depan mata, di dalam masyarakat Indonesia dan dunia.
Memang pada dasarnya Perilaku Junzi merupakan tujuan utama yang ingin dan harus di capai dalam pendidikan agama Ru-Khonghucu baik di rumah, di sekolah maupun dalam kelembagaan agama Ru-Khonghucu. Maka sudah sewajarnya aspek perilaku Junzi harus menjadi porsi terbesar dan terutama dalam pendidikan agama Khonghucu di sekolah.
Untuk menjadi seorang Junzi, diperlukan suatu kemauan yang kuat untuk menjadi seorang siswa dalam kebajikan, yang senantiasa HIDUP dengan semangat belajar tanpa kenal lelah, memperbaharui diri dan membina diri. Semangat belajar tidaklah hanya diartikan sebagai belajar text book belaka sebagai seorang literati, tetapi semangat belajar dalam agama Ru-Khonghucu diartikan dalam pengertian yang lebih luas, mencakup hakikat manusia sebagai mahluk jasmani dan rohani. Bahkan belajar dari kehidupan itu sendiri.
Kata HIDUP memiliki arti kita menjalankan kehidupan sekarang dan kini, di dunia ini, dengan demikian agama Ru-Khonghucu menjadi Way of Life penganutnya karena keyakinan yang dalam atas anugerah yang telah diberikan oleh Tian, Tuhan Yang Maha Esa berupa Firman dalam dirinya (Xing). Bukankah Nabi Khongcu bersabda sebelum mengerti tentang kehidupan, bagaimana mengerti hal kematian? Bagi penganut agama Ru-Khonghucu, bukan dan tidak sekali-kali boleh mengidentikkan (atau mengutamakan) agama sebagai pembahasan mengenai after life saja. Ajaran agama Khonghucu secara aktif dipraktekan dalam hubungan dengan Tian, Di dan Ren.. Hal ini sesuai dengan iman umat Ru-Khonghucu Wei De Dong Tian, Xian You Yi De dan ‘Yang tidak mengenal Firman, tidak dapat menjadi seorang Junzi”
Pengertian ini bukan berarti kita tidak percaya terhadap adanya ‘kehidupan” setelah kematian (after life), titik berat kita kepada kekinian untuk mempersiapkan “nanti” karena kini dan nanti merupakan satu kesinambungan yang tidak terpisah. Maka dikatakan untuk mencapai yang jauh harus dimulai dari yang dekat, untuk mencapai tempat tinggi harus dimulai dari tempat yang rendah.
Dalam pendidikan agama Ru-Khonghucu tradisional yang dikembangkan beberapa ratus tahun terakhir, pendidikan seorang anak Khonghucu diberikan dalam Di Zi Gui yang menekankan aspek perilaku dan moralitas seorang anak atau lebih dikenal sebagai pendidikan BUDI PEKERTI.
Untuk memperkaya pendidikan agama Khonghucu di Indonesia, Di Zi Gui bisa dimasukkan untuk siswa Sekolah Dasar.
Di Zi Gui merupakan pengembangan apa yang disabdakan dalam Lun Yu I: 6, “Seorang muda, di rumah hendaklah berlaku Bakti, di luar hendaklah bersikap Rendah Hati, hati-hati sehingga dapat dipercaya, menaruh cinta kepada masyarakat dan berhubungan erat dengan orang ber-Peri Cinta Kasih. Bila telah melakukan hal ini dan masih mempunyai kelebihan tenaga, gunakanlah untuk mempelajari kitab-kitab.”
Buku Confucian Ethics yang diterbitkan oleh pemerintah Singapore pertengahan tahun 1980an - yang dirancang oleh tidak kurang dari 10 orang Profesor level dunia untuk pendidikan moral bagi siswa kelas 3 dan kelas 4 di Singapore - dapat memperkaya bahan pengajaran agama Khonghucu di sekolah.
Pendidikan BUDI PEKERTI diartikan sebagai upaya mendorong siswa mempraktekan nilai-nilai hakiki agama yang dianut dalam kehidupan nyata, kini dan sekarang. Hanya Kebajikan Tian berkenan tidak menjadi pemanis semata. Di dalamnya mencakup hubungan dengan sesama manusia dan lingkungan. Perlu disinggung secara khusus di dalamnya mengenai pelestarian alam, narkoba dan korupsi secara khusus.
Perlu ditegaskan, penekanan pada pendidikan BUDI PEKERTI jangan diartikan sebagai sesuatu yang terpisah dari nilai hakiki agama Ru-Khonghucu yang kita anut sehingga menjadi sesuatu ‘aturan’ yang hambar tak bermakna.
Dengan kata lain, keyakinan tentang After Life biarlah tetap ada dalam hati sanubari dan iman kita, kewajiban kita yang utama sesuai kodrat kita sebagai mahluk jasmani dan rohani adalah mengejawantahkan anugerah Tian (Xing) agar senantiasa selaras dengan Dao.
Dengan demikian empat aspek lain dalam Pendidikan Agama Khonghucu, yaitu, Sejarah Suci, Keimanan, Tata Ibadah, dan Kitab Suci Si Shu Wu Jing (ditambah Xiao Jing) merupakan dasar yang perlu diajarkan dengan maksud memberi ‘jiwa’ pada pendidikan BUDI PEKERTI, sehingga BUDI PEKERTI yang diajarkan merupakan suatu pengejawantahan dari nilai hakiki agama Ru Khonghucu, yaitu hidup dalam Jalan Suci (Dao), sesuai dengan Watak Sejati yang telah diFirmankan Tian di dalam diri manusia. Hal ini selaras dengan apa yang disabdakan, “Ada empat hal di dalam pelajaran Nabi: Pengetahuan Kitab, Perilaku, Kesatyaan dan Dapat Dipercaya”
Mengenai pentingnya melaksanakan apa yang diajarkan, marilah kita renungkan apa yang disabdakan Nabi, “Kebajikan tidak dibina, pelajaran tidak diperbincangkan, mendengar Kebenaran tidak dapat melaksanakan dan terhadap hal-hal yang buruk tidak dapat memperbaiki; inilah yang selalu menyedihkan hatiKu.”
SEJARAH SUCI
Nabi terancam bahaya di negeri Khong, Beliau bersabda, “Sepeninggal Raja Bun (Wen), bukankah Kitab-kitabnya Aku yang mewarisi? Bila Tuhan YME hendak memusnahkan Kitab-Kitab itu, Aku sebagai orang yang lebih kemudian, tidak akan memperolehnya. Bila Tuhan tidak hendak memusnahkan Kitab-kitab itu, apa yang dapat dilakukan orang-orang negeri Khong atas diriKu?”
“Saudara-saudaraku, mengapa kalian nampak bermuram durja karena kehilangan kedudukan? Sudah lama dunia ingkar dari Jalan Suci, kini Tuhan YME menjadikan Guru selaku Bok-tok (Genta)”
Nabi bersabda, “Aku hanya meneruskan, tidak mencipta. Aku sangat menaruh percaya dan suka kepada (Ajaran dan Kitab-kitab) yang kuno itu. Aku ingin dapat membandingkan diriKu dengan Lo Phing.”
Nabi bersabda, “Ah, kiranya sudah tua dan lemah Aku. Sudah lama Aku tidak bermimpikan Pangeran Ciu.”
Dengan mengutip ke empat ayat tersebut jelaslah pentingnya murid untuk diberi pelajaran dasar mengenai Sejarah Suci. Dengan mengetahui bahwa Nabi Khongcu merupakan “penerus’ dan bukan ‘pencipta’, seorang Bok-tok Tuhan YME (Tian Zi Mu Duo) dan Ajarannya merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Esa, murid akan menyadari BUDI PEKERTI yang diajarkan dalam agama Ru-Khonghucu bukanlah sekedar pelajaran tanpa makna tetapi merupakan Firman Tuhan Yang Maha Esa yang diajarkan melalui Nabi-Nabi dan Raja Suci yang harus dilaksanakan dalam kehidupannya sehari-hari.
Namun demikian, perlu diingat dalam pelajaran mengenai Sejarah Suci, hendaknya tidak terjebak untuk ‘memaksa’ siswa mengingat/menghafal tahun-tahun atau urutan nama-nama Nabi atau Raja Suci, tetapi yang terpenting siswa dapat menangkap ‘Roh’, Semangat dan Makna yang perlu diteladani dari adanya Sejarah Suci tersebut dan perlu ditampilkan dalam cerita-cerita yang menarik.
Dalam Sejarah Suci, perlu diajarkan pengertian dan perbedaan mengenai Nabi (Shengren), Orang Bijaksana dan Filsuf serta Shen Ming secara bertahap.
KEIMANAN
Adalah suatu kenyataan yang kasat mata, dalam masyarakat kita, Agama acapkali diartikan sebagai suatu ajaran yang mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan-Allah. Sedangkan etika moralitas kehidupan yang mengatur hubungan horisontal seolah-olah menjadi sesuatu yang terpisah dari pembelajaran dan hidup keberagamaan seseorang.
Kata iman menjadi suatu istilah yang seolah hanya mencakup kepercayaan seseorang terhadap kekuatan transenden semata (vertikal). Maka tidak mengherankan dalam khasanah istilah keagamaan Ru-Khonghucu (khususnya di Indonesia), tafsir Cheng sebagai iman oleh sebagian ahli bahasa (atau yang mengerti bahasa Hua Yu) dan rohaniwan (yang mengerti bahasa Hua Yu) menjadi dianggap sebagai sesuatu yang ‘menyimpang’ dari pengertian sebenarnya. Bagi penulis, perbedaan pandangan dari sebagian kalangan terhadap tafsir ini tidak terlepas dari adanya pengertian umum yang terpisah antara hubungan vertikal manusia dengan Tian dengan hubungan horizontal dengan sesama manusia.
Bila pendekatan terhadap tafsir Cheng sebagai iman dipandang dari kacamata agama Ru-Khonghucu sendiri dan bukan menggunakan ukuran ajaran agama orang lain, kata iman sebagai tafsir Cheng bisa diterima, karena iman disini dipandang sebagai suatu ketulusan hati kita untuk mengikuti Tian dan FirmanNya. Seperti juga kita bisa berkaca dari ketulusan alam semesta mengikuti alurnya.
Dengan pendekatan seperti ini, maka iman disini bukan sekedar hubungan manusia dengan Allah dalam arti yang dimengerti oleh umum, tetapi juga keaktifan sesorang untuk mengikuti Firman Tian yang telah dikaruniakan di dalam dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian iman dalam agama Ru-Khonghucu mencakup hubungan vertikal dan horizontal dalam Tian Di Ren yang dilaksanakan dalam hidup sekarang dan kini; dalam hubungan kemasyarakatan, dalam benarnya nama-nama, dalam perilaku tepat, dalam konteks Waktu (Kini), Ruang (Indonesia), dan Manusia (Kita). Ini tidak berarti meninggalkan pembelajaran mengenai Jingzhuo dan ritual sembahyang.
Dalam pendidikan keimanan ini yang paling pokok adalah pengakuan iman dalam agama Khonghucu yang mencakup Kitab Zhong Yong Bab Utama, Da Xue Bab Utama dan Wei De Dong Tian, Xian You Yi De yang merupakan ‘jiwa’ dan tujuan dari diajarkannya keimanan.
Tidak kalah pentingnya dalam pendidikan keimanan dalam agama Ru-Khonghucu adalah mengenai penciptaan manusia, tujuan tertinggi pendidikan agama serta sikap umat Khonghucu mengenai kehidupan, penderitaan, cobaan dan bencana. Dari sinilah murid diharapkan mengerti dan mengimani bahwa manusia terlahir di dunia bukan tanpa maksud.
Dari pelajaran keimanan ini murid diharapkan mengerti dan mengimani bahwa Watak Sejati merupakan citra Tuhan Yang Maha Esa yang ada dalam diri manusia. Dengan demikian murid diharapkan dapat mempunyai pandangan yang benar mengenai hidup dan kehidupan sehingga memiliki citra diri, sikap dan perilaku bajik dalam kesehariannya.
Sekali lagi perlu ditekankan, siswa diberikan dasar keimanan bukan semata-mata untuk menghafal tetapi terlebih untuk mengerti, mengimani dan akhirnya melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
IBADAH
“Di antara semua Jalan Suci yang mengatur kehidupan manusia, tiada yang lebih penting dari LI (Kesusilaan), LI itu mempunyai lima pokok (Wu Jing), dan daripadanya tiada yang yang lebih perlu daripada SEMBAHYANG/IBADAH (JI). Adapun JI itu bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan dari tengah batin keluar dan lahir di hati. Bila hati itu dalam-dalam tergerak, perwujudannya meraga di dalam LI. Karena itu hanya orang bijaksana yang berkebajikan dapat penuh-penuh mewujudkan kebenaran daripada JI (sembahyang/ibadah)
JI yang dilaksanakan oleh orang bijaksana yang berkebajikan (XIAN ZHE) itu pasti menerima berkah bahagia; ini bukan berkah bahagia yang biasa dikatakan oleh dunia. Berkah bahagia disini berarti kesempurnaan (siapnya segala sesuatu) – kesempurnaan disini ialah untuk menamakan tentang patuh – lancarnya beratus perkara. Bila tiada sesuatu yang tidak patuh – lancar untuk terselenggara, itulah dinamai siap sempurna (BEI) ; yaitu di dalam, diri terpacu penuh-penuh, dan diluar, patuh lancar di dalam Jalan Suci. Patuh setianya seorang menteri mengabdi kepada rajanya, dan bakti seorang anak mengabdi kepada orang tuanya, itu berpokok satu. Ke atas patuh-taqwa (SHUN) kepada Tuhan (TIAN) Yang Maha Roh (GUI SHEN), keluar, di tengah masyarakat patuh-taat kepada raja dan atasan; ke dalam (ditengah keluarga) bakti kepada orang tua; demikianlah yang dinamai siap sempurna. Hanya seorang Bijaksana berkebajikan dapat siap sempurna. Orang yang siap sempurna baharulah kemudian dapat melakukan sembahyang (ibadah). Maka sembahyang/ibadah seorang yang bijaksana berkebajikan itu dipenuhi iman dan kepercayaan, dengan semangat penuh satya dan hormat-sujud; dengan suasana bathin yang demikian itu dipersembahkan sesuatu, diungkapkan di dalam LI (kesusilaan/upacara), disentosakan/dimantapkan dengan musik, digenapkan pada waktunya. Dalam kecerahan batin disajikan semuanya itu, dikerjakan semuanya itu tidak karena suatu pamrih. Demikianlah hati seorang anak berbakti.”
“Ketika tiba waktu menaikkan sembahyang; seorang Junzi akan bersuci diri (ZHAI, berpuasa lahir batin). Yang dikatakan bersuci diri itu ialah menjadikan semuanya suci; - mensucikan yang tidak suci sehingga semuanya sempurna suci. Karena itu, seorang Junzi kalau tidak ada urusan besar, kalau tidak benar-benar didorong oleh rasa sujud dan hormat, ia tidak mencoba melakukan pensucian diri ini. Bila ia tidak sedang bersuci diri, ia tidak was-was terhadap pengaruh benda-benda, ia juga tidak menghentikan berbagai kegemaran dan keinginannya. Tetapi setelah ia bermaksud bersuci diri, ia lalu mawas terhadap pengaruh benda-benda yang menyesatkan, dan ditindas berbagai kegemaran dan keinginannya. Telinganya tidak mendengarkan musik; - seperti yang tersurat di dalam catatan, “Orang yang bersuci diri, tiada musik baginya.” Ini hendak mengatakan bahwa ia tidak berani membuyarkan citanya. Hati tidak memperturutkan fikiran yang sia-sia, ia mesti memadukan diri di dalam Jalan Suci. Ia tidak membiarkan kaki tangannya gerak langkah yang sia-sia, tetapi mesti memadukannya di dalam LI (susila). Demikianlah seorang Junzi di dalam bersuci diri, ia benar-benar berusaha meluas sempurnakan sari kecerahan kebajikannya.
Maka, tujuh hari bersuci diri longgar (SAN ZHAI) untuk mencapai ketetapan (tujuan); dan tiga hari bersuci diri penuh untuk menciptakan keberesan suasana seluruh batin. Usaha memperoleh ketetapan itulah yang dinamai bersuci diri; sempurnanya pensucian itulah puncak pencapaian sari kecerahan. Dengan demikian, kemudian dapat melakukan jalinan kepada Maha Roh Yang Terang (SHEN MING).”
“Sesungguhnya, sembahyang/ibadah ialah yang terbesar dari semua hal. Segala pirantinya disiapkan lengkap, tetapi kelengkapannya itu mengikuti keperluannya; bukankah ini menjadi pokok daripada Agama? Maka, Agama yang diamalkan seorang Junzi, diluar dibimbingkan bagaimana memuliakan pemimpin dan tua-tua, dan di dalam dibimbingkan bagaimana berbakti kepada orang tuanya. Maka, bila raja/pemimpin yang cerah batin di atas, para mentri/pembantunya akan tunduk mengikutinya. Bila penuh sujud dilakukan sembahyang di Miao leluhur dan dihadapan altar Malaikat Bumi dan Gandum, tentulah anak cucunya akan patuh berbakti; sungguh-sungguh akan menempuh Jalan Suci, dengan tulus hidup dalam Kebenaran; dan akan semarak tumbuh Ajaran Agama….”
Lebih lanjut dalam ayat ke 13 dinyatakan mengenai sepuluh jalinan (SHI LUN) yang terkandung dalam sembahyang/ibadah (JI)
Ayat dari Kitab Li Ji bagian Ji Tong tersebut sengaja dikutip untuk kembali mengingatkan mengenai pentingnya ibadah/sembahyang dilaksanakan bukan sekedar aktifitas ritual belaka tanpa makna, tetapi merupakan pokok dari Ajaran Agama yang keluar dari tengah batin dan tidak terlepas dari upaya pembaharuan dan pembinaan diri kita.
Dengan demikian Ibadah yang diajarkan perlu diimbangi pengertian mengenai hakikat ibadah tersebut dilakukan dan terlebih lagi dipraktekkan bukan saja dalam pelajaran di sekolah atau di tempat ibadah (Litang, Kelenteng, Miao, Rumah Abu, dsb) tetapi juga di rumah. Dengan demikian Tata Ibadah menyangkut Spritualitas murid dalam menjalankan kehidupannya. Tanpa kesadaran untuk mengajarkan hal ini, ibadah akan dilaksanakan dengan penuh keterpaksaan dan membosankan.
Beribadah bagi seorang murid adalah kewajiban yang dilaksanakan dalam upayanya untuk terus maju menuju tinggi menempuh Jalan Suci, bukan sekedar ritual, meminta apalagi sekedar dilatih menjadi seorang petugas kebaktian.
Perlu pula diajarkan mengenai jenis-jenis peribadahan, siapa yang disembahyangi dan apa arti menyembahyangi ‘sesuatu’ sesuai dengan Li.
Dalam pendidikan mengenai Ibadah tidak ketinggalan pula mengapa Musik begitu penting dalam penyempurnaan diri seperti yang pernah disabdakan Nabi “… Sempurnakanlah dirimu dengan Musik.”
KITAB SUCI AGAMA KHONGHUCU
Kitab Si Shu Wu Jing ditambah Xiao Jing sebagai Kitab Suci Agama Ru-Khonghucu tentu harus menjadi dasar utama dalam pengajaran Agama Khonghucu.
Pengenalan mengenai Kitab Suci Agama Ru-Khonghucu diajarkan kepada siswa sejak dini, namun sekali lagi bukan menghafal ayat tetapi memahami ayat.
Siswa diharapkan mengerti hal-hal pokok yang diajarkan oleh Kitab Suci yang menjadi pedoman di dalam menempuh Jalan Suci, hidup sesuai dengan Watak sejati yang di Firmankan Tian sehingga terdorong untuk berperilaku Junzi.
PENUTUP
Dengan pendidikan dan keteladanan yang tepat di rumah, di sekolah dan di lingkungan keagamaan dapat diharapkan terbentuk suatu tatanan masyarakat cerdas, kritis dan ber etika moral yang baik. Dengan demikian dapat diharapkan terbentuk masyarakat dalam tatanan yang sesuai “nama”, dari situlah akan muncul para pemimpin, penegak hukum, ilmuwan, usahawan dan profesi lainnya yang berkualitas baik profesi maupun ahlak moralnya yang akan menjadi pendorong tercapainya Indonesia yang madani, bersih, maju, adil, makmur dan mencintai lingkungan.
-uung-